Di titik inilah Ismail Aksa ingin menawarkan gagasannya.
Ia tidak ingin Golkar hanya menjadi partai yang memiliki struktur, tetapi kehilangan daya tawar politik.
Konsolidasi kader, penguatan basis pemilih, peningkatan representasi di parlemen, hingga merebut kembali posisi pimpinan DPRD menjadi bagian dari agenda yang ia tawarkan.
Dengan kata lain, Ismail Aksa ingin membangun kembali Golkar Sidrap bukan hanya secara organisatoris, tetapi juga secara elektoral.
Soal Pertemuan dengan IAS
Ismail Aksa juga memberikan klarifikasi mengenai pertemuannya dengan Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS).
Ia membenarkan pernah sowan ke kediaman IAS.
Namun Ismail Aksa menilai pertemuan tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika organisasi partai politik.
Menurutnya, seorang kader bertemu dengan pimpinan partai bukan sesuatu yang harus ditafsirkan secara berlebihan.
“Saya rasa itu manusiawi dan siapapun bisa melakukan hal yang sama,” ujar Ismail Aksa.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa komunikasi antarkader dan elite partai menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika menjelang Musda.
Di internal partai, komunikasi semacam itu kerap menjadi bagian dari proses konsolidasi, penjajakan dukungan, sekaligus membangun kesamaan visi mengenai masa depan organisasi.
Beringin Menunggu Pemimpin Baru
Kini perhatian politik di Sidrap mulai tertuju pada Musda Golkar.
Siapa yang akan mendapatkan mandat memimpin DPD II Golkar Sidrap akan sangat menentukan arah mesin politik partai tersebut menghadapi agenda elektoral mendatang.
H. Ismail Aksa telah menyatakan kesiapan.
Ia datang dengan narasi mengembalikan kejayaan, memperbesar representasi Golkar di DPRD, dan merebut kembali kursi pimpinan parlemen daerah.
Pertarungannya bukan sekadar memperebutkan kursi ketua.
Lebih dari itu, Musda akan menjadi momentum untuk menentukan apakah Golkar Sidrap mampu melakukan kebangkitan politik dan kembali menjadi salah satu kekuatan utama dalam percaturan politik Bumi Nene Mallomo.
Kini bola berada di arena Musda.
Dan Ismail Aksa telah lebih dulu membuka kartunya.(edybasri)
