Sidrap, Katasulsel.com — Mereka tinggal jauh dari Sidrap. Sebagian meniti karier, membangun usaha, mengajar di kampus, hingga menempati berbagai posisi profesional di luar daerah.
Tetapi jarak ternyata tidak membuat mereka berhenti memikirkan kampung halaman.
Justru dari perantauan, suara mereka mulai kembali terdengar.
Dalam forum “Bincang-Bincang Orang Sidrap” yang diinisiasi tiga pilar IKMI, IKM dan ISA Kabupaten Sidrap, Sabtu malam, 5 September 2026, para perantau tidak datang sekadar membawa pujian.
Mereka membawa gagasan.
Bahkan kritik.
Forum tersebut menjadi ruang terbuka untuk membicarakan persoalan Kabupaten Sidenreng Rappang dari berbagai sudut pandang. Pemerintah, akademisi, pengusaha, tokoh masyarakat dan generasi muda duduk dalam satu ruang.
Wakil Bupati Sidrap, Hj. Nur Kana’ah, S.H., M.Si., menyambut forum tersebut sebagai langkah positif bagi pembangunan daerah.
Menurutnya, pemerintah membutuhkan masukan dari banyak pihak untuk membaca persoalan Sidrap secara lebih objektif.
“Ini mungkin langkah awal yang baik untuk kemajuan Kabupaten Sidenreng Rappang dan seluruh masyarakat, serta generasi muda,” ujarnya.
Bagi Nur Kana’ah, kritik dan masukan tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang berseberangan dengan pemerintah.
Justru dari sanalah pemerintah dapat mengetahui persoalan yang mungkin belum seluruhnya terlihat dari balik meja birokrasi.
“Pemerintah Daerah Kabupaten Sidrap akan mendengarkan, dan insya Allah kita akan mengurai satu per satu persoalan yang ada di Kabupaten Sidrap,” katanya.
Mereka Tidak Sekadar Menonton dari Jauh
Prof. Dr. Mursalim, S.E., M.Si., CWM, menjadi salah satu suara dari kalangan orang Sidrap yang berada di luar daerah.
Ia melihat keterlibatan para perantau dalam forum tersebut sebagai bentuk tanggung jawab terhadap daerah asal.
Menurutnya, orang Sidrap yang telah lama berada di luar daerah memiliki pengalaman, pengetahuan dan jaringan yang dapat dibawa pulang untuk kepentingan pembangunan.
“Kegiatan ini merupakan wujud tanggung jawab kami sebagai orang Sidrap yang berada di luar daerah,” ujar Mursalim.
Ia menegaskan, kontribusi tidak selalu harus berbentuk bantuan.
Memberikan pandangan secara konstruktif, menyampaikan kritik secara proporsional dan menawarkan jalan keluar juga merupakan bentuk pengabdian kepada daerah.
“Ke depannya, kami akan terus menyelenggarakan kegiatan serupa dan mengambil peran untuk berkontribusi bagi daerah yang kita cintai,” katanya.
Kritik Tidak Harus Berarti Menyerang
Inilah yang membuat forum tersebut menarik.
Bersambung…………
Ada pemerintah yang ingin didengar.
Ada masyarakat yang ingin menyampaikan keresahan.
Ada akademisi yang membawa perspektif ilmiah.
Ada pengusaha yang melihat peluang ekonomi.
Dan ada orang Sidrap dari luar daerah yang membawa pengalaman dari tempat mereka bekerja dan berkiprah.
Semua dipertemukan dalam satu forum.
Pesannya sederhana: membangun Sidrap tidak harus selalu dengan suara yang seragam.
Kritik tetap diperlukan.
Tetapi kritik yang dibutuhkan adalah kritik yang membuka jalan keluar, bukan sekadar mencari kesalahan.
Melawan Stigma dengan Prestasi
Nur Kana’ah juga menyampaikan sejumlah capaian pemerintah daerah dalam forum tersebut.
Salah satunya pertumbuhan ekonomi Sidrap yang disebut meningkat dari 4,2 persen menjadi 7,7 persen.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengubah citra sekaligus melawan stigma negatif terhadap Sidrap.
Pemerintah bersama Forkopimda, OPD dan masyarakat, kata dia, terus bergerak melakukan pembenahan.
Perhatian juga diarahkan kepada sektor yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Pertanian, peternakan dan perikanan menjadi sektor strategis karena sebagian besar masyarakat Sidrap menggantungkan aktivitas ekonominya pada bidang tersebut.
Produktivitas pertanian pun disebut meningkat, dari sekitar 6 ton menjadi 11–12 ton gabah per hektare di sejumlah lokasi.
Dukungan pemerintah pusat juga mulai mengalir melalui bantuan alat dan mesin pertanian modern serta program pertanian modern.
Bahkan, sekitar 10 hektare lahan di Sidrap dijadikan sampel pertanian modern nasional.
Pulang Membawa Kritik, Bukan Sekadar Cerita
Forum orang Sidrap akhirnya menghadirkan pesan yang lebih besar.
Bahwa orang Sidrap yang berada di luar daerah bukan berarti kehilangan hubungan dengan kampung halamannya.
Mereka tetap mengikuti perkembangan.
Mereka melihat perubahan.
Dan ketika ada yang dianggap perlu dibenahi, mereka tidak segan bersuara.
Bedanya, mereka tidak hanya membawa kritik.
Mereka juga membawa pengalaman, pengetahuan, jaringan dan gagasan.
Sebab, untuk membangun Sidrap, mungkin yang dibutuhkan bukan hanya orang yang selalu mengatakan “sudah bagus”.
Tetapi juga mereka yang berani mengatakan, “masih ada yang harus diperbaiki,” lalu ikut menawarkan bagaimana cara memperbaikinya. (*)
