Soppeng, Katasulsel.com — Gaza dan Soppeng dipisahkan oleh ribuan kilometer, berbeda bahasa, budaya, bahkan benua. Namun Ahad sore (28/6/2026), jarak itu terasa begitu dekat.

Di sudut Warkop Makmur, seorang ulama asal Gaza, Palestina, duduk berbincang hangat dengan tokoh masyarakat, aktivis, dan warga Soppeng. Tak ada panggung besar. Tak ada protokoler yang kaku. Hanya secangkir kopi, obrolan kemanusiaan, dan kisah tentang tanah yang hingga kini masih menjadi perhatian dunia.

Dialah Syekh Yahia Taha.

Banyak yang mengenalnya sebagai ulama asal Palestina. Namun tak banyak yang tahu bahwa pria tersebut telah menghabiskan sebagian hidupnya di Indonesia.

Lulusan sarjana dan magister Universitas Lampung itu mengaku telah menetap sekitar tujuh tahun di Indonesia. Karena itulah, ketika berbicara dalam bahasa Indonesia yang fasih, suasana diskusi terasa semakin akrab.

Kunjungan ke Soppeng merupakan bagian dari safari dakwahnya di Sulawesi Selatan. Selama beberapa hari terakhir, ia berkeliling dari masjid ke masjid, bertemu masyarakat, sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama.

Namun sore itu, ada satu kalimat yang membuat peserta diskusi terdiam.

Menurut Syekh Yahia Taha, kondisi yang dihadapi masyarakat Palestina saat ini sudah berada pada titik di mana bantuan uang saja tidak selalu menjadi solusi utama.

Pernyataan itu menggambarkan betapa kompleksnya situasi yang sedang berlangsung di kampung halamannya.

Meski demikian, ia tidak datang membawa kemarahan.

Sebaliknya, yang ia bawa justru pesan tentang pendidikan, pemahaman, dan dialog.

Ketika diskusi menyentuh berbagai perbedaan pandangan terkait konflik Palestina-Israel, Syekh Yahia Taha mengingatkan bahwa edukasi jauh lebih penting daripada tindakan yang mengandung kekerasan.

Baginya, perubahan besar selalu dimulai dari pemahaman yang benar.

“Yang paling penting adalah memberikan pemahaman,” ujarnya.

Momen paling berkesan terjadi menjelang pertemuan berakhir.

Di hadapan Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang, Syekh Yahia Taha menyerahkan sebuah syal bertuliskan “Save Palestina, Save Al Aqsa.”

Benda sederhana itu seketika menjadi simbol yang lebih besar daripada bentuk fisiknya.

Ia bukan sekadar suvenir.

Ia adalah pesan persaudaraan dari seseorang yang datang langsung dari wilayah konflik kepada masyarakat yang tinggal jauh di belahan dunia lain.

Suasana semakin emosional ketika Syekh Yahia Taha mendoakan Mahmud Cambang yang sedang menjalani pemulihan pascakecelakaan.

“Semoga cepat sembuh. Mudah-mudahan ketika kita bertemu lagi nanti, Palestina sudah merdeka,” tuturnya.

Kalimat itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Namun bagi mereka yang hadir, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai persoalan dunia, harapan ternyata masih terus hidup.

Dan sore itu, di sebuah warung kopi sederhana di Kabupaten Soppeng, harapan dari Gaza menemukan tempat untuk didengarkan. (*)