Sidrap, katasulsel.com — Sebuah daerah boleh saja menggelar festival setiap bulan. Panggung megah berdiri. Artis datang. Keramaian tercipta. Namun setelah lampu padam, pertanyaannya selalu sama: apa yang tersisa bagi ekonomi warga?
Pertanyaan itulah yang tampaknya ingin dijawab Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) melalui rencana Saromase Sidrap Expo dan Festival yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
Di Baruga Rumah Jabatan Bupati, Jumat (24/7/2026), Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif memimpin pembahasan persiapan bersama sejumlah organisasi perangkat daerah. Hadir Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Aris Yasin, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Adli Lukman, serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Mahluddin.
Namun pertemuan itu sejatinya bukan sekadar membahas panggung hiburan atau susunan acara. Yang sedang dibangun adalah sebuah strategi agar event berubah menjadi mesin penggerak ekonomi daerah.
Selama ini, banyak daerah berlomba membuat festival. Tetapi tidak sedikit yang berakhir hanya menjadi agenda seremonial. Pengunjung datang, berfoto, lalu pulang. Perputaran uang terjadi sesaat, tanpa dampak jangka panjang.
Sidrap tampaknya ingin mengambil jalur berbeda.
Konsep Saromase Sidrap Expo dan Festival dirancang memadukan promosi daerah, pameran UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif hingga hiburan dalam satu ekosistem. Jika dikelola dengan baik, efek berantainya bisa sangat luas.
Hotel dan penginapan berpotensi penuh. Rumah makan ramai. Pedagang kaki lima memperoleh pelanggan baru. Produk UMKM memiliki ruang promosi yang lebih besar. Bahkan pelaku seni lokal mendapat panggung untuk memperkenalkan karya mereka.
Dalam teori ekonomi, inilah yang dikenal sebagai multiplier effect—satu kegiatan mampu menghidupkan banyak sektor sekaligus.
Bupati Syaharuddin Alrif menegaskan pemerintah daerah mendukung penuh pelaksanaan Saromase Sidrap Expo dan Festival karena sejalan dengan visinya menjadikan Sidrap sebagai kota event.
“Konsep kegiatan ini sangat bagus. Pemerintah daerah tentu mendukung pelaksanaannya karena sejalan dengan visi menjadikan Sidrap sebagai kota event yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan berkualitas,” ujarnya.
Komitmen itu tidak berhenti pada dukungan moral. Pemerintah Kabupaten Sidrap juga menyatakan siap memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana agar pelaksanaan kegiatan berjalan optimal dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap sebuah festival. Event kini tidak lagi diposisikan sebagai pengeluaran anggaran semata, melainkan sebagai instrumen investasi daerah untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.
Tantangan berikutnya justru berada pada tahap pelaksanaan.
Festival sebesar apa pun tidak akan memberi dampak signifikan jika hanya dinikmati peserta dari dalam daerah. Kunci keberhasilannya adalah bagaimana Sidrap mampu menarik pengunjung dari luar kabupaten, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta mendorong mereka membelanjakan uangnya di sektor-sektor lokal.
Promosi digital, kolaborasi dengan komunitas, media, pelaku usaha hingga penyedia jasa transportasi akan menjadi faktor penting agar gaung Saromase tidak hanya terdengar di Sidrap, tetapi juga di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Jika target itu tercapai, maka yang tumbuh bukan hanya keramaian selama beberapa hari. Yang tumbuh adalah kepercayaan bahwa Sidrap memiliki kapasitas menjadi destinasi berbagai agenda berskala regional.
Syaharuddin bahkan berharap Saromase Sidrap Expo dan Festival tidak berhenti sebagai kegiatan sekali jalan. Ia ingin agenda tersebut menjadi kalender tahunan yang terus menggerakkan roda ekonomi, meningkatkan kunjungan wisatawan, sekaligus membuka ruang promosi yang lebih luas bagi produk-produk UMKM lokal.
Kini publik tinggal menunggu pembuktiannya.
Karena ukuran keberhasilan sebuah festival bukan hanya jumlah penonton yang memadati arena, melainkan berapa besar omzet pedagang meningkat, berapa banyak UMKM naik kelas, dan seberapa kuat nama Sidrap melekat sebagai daerah yang mampu mengubah sebuah event menjadi kekuatan ekonomi.
Pertanyaan itulah yang tampaknya ingin dijawab Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) melalui rencana Saromase Sidrap Expo dan Festival yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.
Di Baruga Rumah Jabatan Bupati, Jumat (24/7/2026), Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif memimpin pembahasan persiapan bersama sejumlah organisasi perangkat daerah. Hadir Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Aris Yasin, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Adli Lukman, serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Mahluddin.
Namun pertemuan itu sejatinya bukan sekadar membahas panggung hiburan atau susunan acara. Yang sedang dibangun adalah sebuah strategi agar event berubah menjadi mesin penggerak ekonomi daerah.
Selama ini, banyak daerah berlomba membuat festival. Tetapi tidak sedikit yang berakhir hanya menjadi agenda seremonial. Pengunjung datang, berfoto, lalu pulang. Perputaran uang terjadi sesaat, tanpa dampak jangka panjang.
Sidrap tampaknya ingin mengambil jalur berbeda.
Konsep Saromase Sidrap Expo dan Festival dirancang memadukan promosi daerah, pameran UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif hingga hiburan dalam satu ekosistem. Jika dikelola dengan baik, efek berantainya bisa sangat luas.
Hotel dan penginapan berpotensi penuh. Rumah makan ramai. Pedagang kaki lima memperoleh pelanggan baru. Produk UMKM memiliki ruang promosi yang lebih besar. Bahkan pelaku seni lokal mendapat panggung untuk memperkenalkan karya mereka.
Dalam teori ekonomi, inilah yang dikenal sebagai multiplier effect—satu kegiatan mampu menghidupkan banyak sektor sekaligus.
Bupati Syaharuddin Alrif menegaskan pemerintah daerah mendukung penuh pelaksanaan Saromase Sidrap Expo dan Festival karena sejalan dengan visinya menjadikan Sidrap sebagai kota event.
“Konsep kegiatan ini sangat bagus. Pemerintah daerah tentu mendukung pelaksanaannya karena sejalan dengan visi menjadikan Sidrap sebagai kota event yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan berkualitas,” ujarnya.
Komitmen itu tidak berhenti pada dukungan moral. Pemerintah Kabupaten Sidrap juga menyatakan siap memfasilitasi kebutuhan sarana dan prasarana agar pelaksanaan kegiatan berjalan optimal dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Langkah tersebut menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap sebuah festival. Event kini tidak lagi diposisikan sebagai pengeluaran anggaran semata, melainkan sebagai instrumen investasi daerah untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.
Tantangan berikutnya justru berada pada tahap pelaksanaan.
Festival sebesar apa pun tidak akan memberi dampak signifikan jika hanya dinikmati peserta dari dalam daerah. Kunci keberhasilannya adalah bagaimana Sidrap mampu menarik pengunjung dari luar kabupaten, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta mendorong mereka membelanjakan uangnya di sektor-sektor lokal.
Promosi digital, kolaborasi dengan komunitas, media, pelaku usaha hingga penyedia jasa transportasi akan menjadi faktor penting agar gaung Saromase tidak hanya terdengar di Sidrap, tetapi juga di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Jika target itu tercapai, maka yang tumbuh bukan hanya keramaian selama beberapa hari. Yang tumbuh adalah kepercayaan bahwa Sidrap memiliki kapasitas menjadi destinasi berbagai agenda berskala regional.
Syaharuddin bahkan berharap Saromase Sidrap Expo dan Festival tidak berhenti sebagai kegiatan sekali jalan. Ia ingin agenda tersebut menjadi kalender tahunan yang terus menggerakkan roda ekonomi, meningkatkan kunjungan wisatawan, sekaligus membuka ruang promosi yang lebih luas bagi produk-produk UMKM lokal.
Kini publik tinggal menunggu pembuktiannya.
Karena ukuran keberhasilan sebuah festival bukan hanya jumlah penonton yang memadati arena, melainkan berapa besar omzet pedagang meningkat, berapa banyak UMKM naik kelas, dan seberapa kuat nama Sidrap melekat sebagai daerah yang mampu mengubah sebuah event menjadi kekuatan ekonomi.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
