Di Sekolah yang Jauh dari Ramai Kota, Syahar (Bupati Sidrap) Bicara Masa Depan Anak Desa

Oleh: Tipue Sultan

Saya tiba di Tana Toro ketika jalan mulai menanjak dan udara berubah lebih dingin. Desa ini tidak ribut oleh kendaraan. Tidak ada bising kota. Yang ada hanya suara angin dan langkah kecil anak-anak sekolah yang sudah berdiri rapi di halaman SD-SMP Negeri Satap 10 Batu.

Mereka menunggu.

Sekitar seratus pelajar SD dan SMP berdiri tanpa banyak bergerak. Tapi matanya tidak diam. Mereka menunggu satu momen yang biasanya hanya mereka lihat dari layar: kedatangan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.

Sabtu (13/6/2026) itu, program “Bermalam di Desa” benar-benar terasa bentuknya. Bukan sekadar nama kegiatan. Bupati datang langsung ke sekolah yang letaknya jauh dari pusat keramaian Sidrap.

Di rombongan itu ikut anggota DPRD Sidrap Dapil IV, Kajari Sidrap Adhi Kusumo Wibowo, Forkopimcam Pitu Riase, dan sejumlah pejabat daerah. Tapi begitu masuk halaman sekolah, yang paling mencuri perhatian tetap anak-anak.

Mereka berdiri di bawah langit terbuka, halaman upacara menjadi ruang pertemuan antara kebijakan dan kenyataan.

Saya melihat sendiri bagaimana Bupati berhenti sejenak sebelum naik ke podium kecil di halaman sekolah itu. Matanya menyapu bangunan sekolah. Sederhana, tapi bersih. Tertata. Dan di belakangnya, pemandangan perbukitan Tana Toro seperti jadi dinding alami sekolah ini.

“Desa ini jauh dari pusat kota, tapi saya lihat sekolah ini sangat terjaga. Bersih, rapi, dan suasananya mendukung belajar. Ini bukti bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh letak geografis,” kata Syaharuddin.

Kalimat itu tidak panjang. Tapi cukup membuat beberapa guru di barisan belakang mengangguk pelan.

Di sini, pendidikan memang tidak berada dalam kemewahan. Tapi ia hidup. Pelan, tapi nyata.

Bupati lalu bicara soal hal yang lebih serius: masa depan anak-anak desa. Ia tidak ingin jarak menjadi alasan untuk tertinggal. Tidak ingin anak Tana Toro merasa berada di “pinggir” pembangunan.

“Anak-anak di desa punya kesempatan yang sama. Yang penting mau belajar, disiplin, dan punya cita-cita,” ujarnya.

Bersambung..👇👇

Saya sempat memperhatikan beberapa siswa. Ada yang masih memegang tangan temannya. Ada yang tersenyum kecil, seperti baru saja mendengar sesuatu yang mereka tunggu lama: bahwa mereka tidak sedang ditinggalkan.

Lalu datang satu kalimat yang membuat suasana berubah sedikit lebih hangat.

Pemerintah Kabupaten Sidrap, kata Bupati, akan menyiapkan beasiswa bagi siswa berprestasi di SD-SMP Negeri Satap 10 Batu.

Tidak ada sorak besar. Tapi ada perubahan kecil di wajah-wajah itu. Seperti pintu yang sedikit terbuka.

“Tidak boleh ada anak yang berhenti sekolah karena ekonomi,” katanya.

Di desa seperti Tana Toro, kalimat seperti itu tidak terdengar seperti janji besar. Tapi seperti harapan yang mulai punya bentuk.

Kunjungan ini tidak hanya soal hadir. Tapi soal melihat. Dan di tempat seperti ini, melihat langsung sering kali lebih penting daripada laporan di meja kerja.

Saat rombongan mulai meninggalkan sekolah, anak-anak tetap berdiri. Tidak ada yang berlari. Tidak ada yang berisik. Mereka hanya melihat ke arah jalan yang perlahan kembali sepi.

Di balik sunyi itu, ada satu hal yang tersisa: keyakinan kecil bahwa jarak dari kota bukan berarti jarak dari masa depan.(*)