Kendari, Katasulsel.com – Pemerintah Kota Kendari tengah mengakselerasi transformasi layanan kesehatan yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan paling mendasar masyarakat. Fokusnya bukan sekadar membangun gedung atau membeli alat kesehatan baru, melainkan menciptakan sistem pelayanan yang mampu menjawab persoalan klasik rumah sakit: keterbatasan kapasitas, tingginya angka rujukan, dan munculnya keluhan pasien yang belum terlayani secara optimal.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, secara terbuka mengakui bahwa sektor kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan langkah cepat dan terukur. Karena itu, pemerintah daerah mulai melakukan pembenahan menyeluruh terhadap fasilitas kesehatan milik daerah, khususnya RSUD Kota Kendari.

Salah satu kebijakan yang kini menjadi perhatian adalah perubahan pola pengadaan alat kesehatan. Jika selama ini pengadaan sering kali dianggap hanya sebagai proyek pembangunan fasilitas, kini seluruh kebutuhan alat medis diwajibkan berbasis pada kebutuhan pelayanan dan rekomendasi tenaga medis.

“Saya sudah meminta agar setiap pengadaan benar-benar berdasarkan kebutuhan dokter dan kebutuhan masyarakat. Bukan karena keinginan pejabat atau sekadar melengkapi daftar pengadaan,” tegas Siska.

Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan pendekatan dalam tata kelola kesehatan daerah. Dalam dunia pelayanan rumah sakit, kesesuaian alat kesehatan dengan kebutuhan medis menjadi faktor penting untuk meningkatkan efektivitas pelayanan sekaligus menghindari pemborosan anggaran.

Alarm dari Angka 9.000 Pasien

Di balik rencana besar tersebut, terdapat fakta yang cukup mencengangkan. Berdasarkan data yang dipaparkan pemerintah daerah, setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 8.000 hingga 9.000 pasien yang belum dapat memperoleh pelayanan maksimal akibat keterbatasan fasilitas dan kapasitas rumah sakit.

Angka tersebut menjadi alarm bagi pemerintah daerah bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan berkembang jauh lebih cepat dibanding kemampuan infrastruktur yang tersedia saat ini.

Dalam perspektif pelayanan publik, kondisi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya antrean pasien, keterbatasan ruang rawat inap, hingga tingginya angka rujukan ke rumah sakit lain.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan di Kendari tidak hanya datang dari warga kota, tetapi juga dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara yang menjadikan Kendari sebagai pusat layanan kesehatan regional.

Rumah Sakit Diperluas, Kapasitas Ditambah

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Pemkot Kendari mulai melakukan penataan ulang kawasan RSUD Kota Kendari. Sejumlah bangunan yang sudah tidak lagi produktif dibongkar untuk memberikan ruang bagi pembangunan fasilitas baru.

Langkah tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas tempat tidur, memperluas ruang rawat inap, serta menciptakan lingkungan rumah sakit yang lebih representatif dan nyaman bagi pasien.

Dalam manajemen rumah sakit modern, penambahan kapasitas rawat inap menjadi salah satu indikator penting untuk meningkatkan akses pelayanan dan menekan risiko penumpukan pasien.

Selain pembangunan fisik, pemerintah juga menargetkan kehadiran sedikitnya tiga layanan kesehatan baru sepanjang tahun 2026. Kehadiran layanan baru ini diharapkan mampu memperkuat kemampuan RSUD Kota Kendari dalam menangani berbagai kasus medis tanpa harus bergantung pada rumah sakit di luar daerah.

Kurangi Rujukan ke Luar Sulawesi Tenggara

Selama beberapa tahun terakhir, rujukan pasien ke luar daerah masih menjadi salah satu tantangan pelayanan kesehatan di Sulawesi Tenggara. Berbagai kasus yang membutuhkan fasilitas spesialistik sering kali harus ditangani di rumah sakit yang berada di luar provinsi.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada biaya pengobatan, tetapi juga menambah beban psikologis pasien dan keluarga yang harus menjalani perawatan jauh dari tempat tinggal.

Karena itu, Pemkot Kendari menempatkan penguatan fasilitas kesehatan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian layanan kesehatan daerah.

Targetnya cukup ambisius, yakni menjadikan RSUD Kota Kendari sebagai rumah sakit yang mampu menangani lebih banyak kasus rujukan dan menjadi salah satu pusat pelayanan kesehatan unggulan di Sulawesi Tenggara.

Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Meski demikian, pemerintah menyadari bahwa transformasi sektor kesehatan tidak bisa dilakukan sendiri. Dukungan DPRD, Forkopimda, Dinas Kesehatan, rumah sakit rujukan, dokter spesialis, tenaga kesehatan, hingga masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan perubahan tersebut.

Siska bahkan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat aktif memberikan masukan demi mempercepat peningkatan kualitas layanan kesehatan di Kendari.

Di tengah meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang cepat, aman, dan profesional, langkah yang ditempuh Pemkot Kendari menjadi sinyal bahwa sektor kesehatan kini ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan daerah.

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan program ini sebenarnya sederhana: semakin sedikit pasien yang ditolak, semakin pendek antrean pelayanan, dan semakin banyak penyakit yang bisa ditangani di Kendari tanpa harus dirujuk ke luar Sulawesi Tenggara. Jika target itu tercapai, transformasi yang sedang dibangun hari ini akan menjadi investasi kesehatan yang manfaatnya dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. (*)

Topik: Kendari