Berbelanja di kios-kios desa.
Uang akan berputar.
Warung akan ramai.
Pedagang akan mendapat pelanggan baru.
Ekonomi kecil masyarakat akan ikut bergerak.
Mungkin tidak terlihat besar dari kejauhan.
Tetapi sangat terasa bagi mereka yang menjalankan usaha sehari-hari.
Karena itu, kehadiran mahasiswa KKN sesungguhnya membawa dua manfaat sekaligus.
Manfaat ilmu.
Dan manfaat ekonomi.
Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, memahami hal tersebut.
Ia meminta masyarakat menerima mahasiswa seperti keluarga sendiri.
Kalimat yang sederhana.
Tetapi mengandung makna besar.
Sebab keberhasilan KKN bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan mahasiswa.
Tetapi juga oleh keramahan masyarakat yang menerima mereka.
Yang membuat saya tersenyum justru membayangkan masa depan.
Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, sebagian dari tiga ribu mahasiswa ini mungkin sudah menjadi dokter.
Ada yang menjadi dosen.
Ada yang menjadi pengusaha.
Ada yang menjadi pejabat.
Bahkan mungkin ada yang duduk di kursi penting tingkat nasional.
Ketika itu terjadi, mereka akan mengingat banyak tempat dalam perjalanan hidupnya.
Dan saya percaya, sebagian akan mengingat Sidrap.
Mengingat rumah tempat mereka pernah menumpang.
Mengingat petani yang pernah mereka temui.
Mengingat anak-anak yang pernah mereka ajari.
Mengingat desa yang pernah menjadi ruang belajar mereka.
Pada akhirnya, tiga ribu mahasiswa ini memang datang untuk menjalankan KKN.
Tetapi bagi Sidrap, mereka lebih dari itu.
Mereka adalah tiga ribu saksi.
Tiga ribu penyampai cerita.
Tiga ribu duta yang kelak akan membawa nama Sidrap ke berbagai penjuru negeri.
Dan mungkin, itulah hasil terbesar yang tidak pernah tercantum dalam laporan akhir KKN.
Bahwa setelah mereka pulang, Sidrap akan tetap tinggal dalam ingatan mereka. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
