Jakarta, katasulsel.com – Dua nama Asia menjadi sorotan dalam sesi Practice Moto3 Italia 2026 di Sirkuit Mugello, Jumat malam WIB.
Satu berasal dari Indonesia. Satu lagi dari Malaysia.
Namun ketika bendera kotak-kotak dikibarkan, cerita keduanya berakhir sangat berbeda.
Veda Ega Pratama yang sepanjang sesi terlihat kesulitan justru membuat kejutan besar di menit-menit terakhir. Sebaliknya, Hakim Danish yang sempat digadang-gadang mampu bersaing di barisan depan malah terlempar jauh dari zona aman.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Drama itu membuat persaingan dua talenta muda Asia kembali menjadi perbincangan hangat di paddock Moto3.
Sejak awal sesi, Veda memang tidak terlihat menjanjikan.
Pembalap Honda Team Asia itu bahkan sempat tercecer di posisi ke-18, lalu turun lagi ke posisi ke-21 saat sesi memasuki fase krusial.
Ketika waktu tinggal belasan menit, nama Veda nyaris tidak terlihat di papan atas.
Banyak yang mulai meragukan peluangnya menembus Q2 secara langsung.
Namun Mugello ternyata menyimpan cerita lain.
Saat sebagian pembalap sudah merasa aman dengan catatan waktunya, Veda justru melakukan serangan terakhir yang sangat menentukan.
Dalam satu putaran cepat menjelang akhir sesi, rider asal Indonesia itu melesat dari posisi ke-22 menuju posisi kesembilan.
Lompatan 13 posisi dalam waktu singkat itu membuat banyak pihak terkejut.
Veda sukses mengamankan tiket penting menuju fase berikutnya dengan selisih hanya 0,493 detik dari Scott Ogden yang menjadi pembalap tercepat.
Di sisi lain, nasib berbeda dialami Hakim Danish.
Pembalap muda Malaysia itu sempat menunjukkan potensi menjanjikan pada sesi sebelumnya. Namun saat Practice berlangsung, performanya justru tidak berkembang sesuai harapan.
Meski sempat menyentuh posisi 10 besar ketika sesi memasuki menit-menit akhir, Danish gagal mempertahankan ritmenya.
Saat para rival melakukan time attack terakhir, namanya justru terus merosot hingga mengakhiri sesi di posisi ke-21.
Hasil itu memunculkan berbagai analisis di kalangan pengamat balap Asia.
Sejumlah pengamat menilai Danish terlihat terlalu agresif dalam usahanya menaklukkan Mugello. Ia seolah ingin membuktikan dirinya sebagai pembalap Asia paling kompetitif di lintasan legendaris Italia tersebut.
Bahkan muncul penilaian bahwa tekanan untuk tampil lebih baik dari rival-rival Asia, termasuk Veda Ega Pratama, membuatnya kehilangan konsistensi pada momen-momen penting.
Mugello memang bukan sirkuit yang mudah ditaklukkan.
Karakter trek yang cepat, kombinasi tikungan teknis, serta panjang lintasan yang mencapai lebih dari lima kilometer sering kali menghukum pembalap yang terlalu memaksakan diri.
Sebaliknya, Veda menunjukkan pendekatan berbeda.
Alih-alih memaksakan diri sejak awal sesi, pembalap berusia 17 tahun itu terlihat lebih sabar menunggu momentum.
Strategi tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika para pesaing mulai kehilangan kesempatan memperbaiki waktu.
Bagi penggemar balap Indonesia, hasil ini menjadi sinyal positif menjelang sesi kualifikasi.
Veda mungkin belum menjadi yang tercepat.
…………….
Namun kemampuannya bangkit dari posisi bawah hingga masuk 10 besar menunjukkan mental bertarung yang mulai matang.
Dan yang lebih menarik, ketika banyak mata tertuju pada Hakim Danish, justru Veda Ega yang tersenyum paling akhir di Mugello.
Di Moto3, sering kali bukan siapa yang paling berani menyerang yang menang.
Melainkan siapa yang tahu kapan harus menyerang. (edybasri)
