Sidrap, katasulsel.com — Sebuah jembatan penghubung di Kabupaten Sidrap mendadak viral setelah ditutup sementara oleh warga dan pemerintah desa. Akses tersebut adalah Jembatan Macege di Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, yang berada di jalur provinsi Kulo–Malimping.
Penutupan dilakukan bukan tanpa alasan. Kondisi jembatan dinilai sudah mengkhawatirkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama setelah hujan deras beberapa waktu terakhir memperparah kerusakan di bagian struktur bawah.
Kepala Desa Rijang Panua, Rudi Tompang, menegaskan keputusan menutup akses tersebut adalah langkah darurat demi mencegah jatuhnya korban.
“Daripada mobil jatuh ke bawah, lebih baik kami tutup sementara. Ini demi keselamatan warga,” ujarnya saat diwawancarai katasulsel.com, Jumat (12/6/2026).
Rudi juga mengungkapkan bahwa pemerintah desa sudah berulang kali mengajukan usulan perbaikan kepada instansi terkait selama beberapa tahun terakhir. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut nyata di lapangan.
“Sudah lama kami usulkan, tapi belum ada perbaikan. Sementara kondisi jembatan terus menurun,” tambahnya.
Menurutnya, hujan deras yang mengguyur wilayah itu pada Kamis (11/6/2026) diduga mempercepat pengikisan tanah di sekitar pondasi jembatan. Aliran air yang sebelumnya dialihkan melalui gorong-gorong justru membuat struktur semakin rentan.
Jembatan tersebut merupakan akses vital masyarakat antarwilayah di Kecamatan Kulo. Penutupannya membuat warga harus menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh, namun dianggap lebih aman dibanding mengambil risiko melintas di titik rawan.
Di tengah viralnya kondisi ini di media sosial, perhatian publik kini mulai mengarah ke pemerintah provinsi Sulawesi Selatan. Status jalan yang merupakan kewenangan provinsi membuat warga berharap adanya respons cepat dari pemerintah.
Masyarakat pun meminta Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman segera turun tangan sebelum kondisi jembatan berubah menjadi bencana yang tak diinginkan.
Kini, Jembatan Macege menjadi simbol kegentingan infrastruktur yang dibiarkan terlalu lama—hingga warga sendiri yang akhirnya harus “menghentikan” lalu lintas demi menyelamatkan nyawa.(edy)
