Sidrap, katasulsel.com — Di tengah banyak lembaga pendidikan yang berlomba menambah jumlah siswa, Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, justru menyampaikan pesan yang berbeda. Bagi orang nomor dua di Bumi Nene Mallomo itu, kualitas pendidikan jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar banyaknya peserta didik.
Pesan itu disampaikan saat menghadiri penamatan santri Pesantren Muammar Gandi Tahun Ajaran 2025/2026 di Desa Timoreng Panua, Kecamatan Panca Rijang, Selasa, 9 Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, Nurkanaah hadir bukan hanya sebagai Wakil Bupati Sidrap, tetapi juga sebagai Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Muammar Gandi Tunas Bangsa.
Di hadapan santri, orang tua, guru, dan pengurus yayasan, Nurkanaah menegaskan bahwa masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang dibentuk sejak dini melalui pendidikan dan pembinaan karakter.
Pesan itu terasa relevan bagi Sidrap yang saat ini tengah bergerak menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan. Kemajuan sektor pertanian, peternakan, dan berbagai program pembangunan membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral.
Karena itu, perhatian terhadap pendidikan berbasis keagamaan dinilai menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.
Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Nurkanaah juga memberikan dukungan terhadap kebijakan pesantren yang tidak memaksakan diri menerima santri dalam jumlah besar. Kebijakan pembatasan penerimaan santri baru dianggap sebagai langkah yang realistis dan bertanggung jawab.
Menurutnya, lembaga pendidikan harus memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai sebelum menambah jumlah peserta didik. Jika kapasitas asrama, ruang belajar, dan tenaga pengajar belum mencukupi, maka kualitas pembelajaran berpotensi menurun.
Pandangan itu menjadi angin segar di tengah fenomena sebagian lembaga pendidikan yang sering mengukur keberhasilan dari jumlah siswa yang terus bertambah setiap tahun.
Bagi Nurkanaah, pendidikan bukan soal angka statistik.
Pendidikan adalah proses membentuk manusia.
Karena itu, lingkungan belajar yang nyaman, pendampingan yang baik, serta perhatian terhadap perkembangan setiap santri menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Dalam acara tersebut, Wakil Bupati Sidrap juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus yayasan, penasihat, kepala sekolah, serta para guru yang selama ini mengabdikan diri membina generasi muda melalui pendidikan Islam. Ia menilai dedikasi para pendidik memiliki peran besar dalam mencetak generasi Qurani yang berakhlak dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan penamatan santri itu sekaligus menunjukkan komitmen Pemkab Sidrap terhadap penguatan pendidikan keagamaan.
Selama ini, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, disiplin, kemandirian, dan kepemimpinan.
Banyak tokoh masyarakat lahir dari lingkungan pesantren.
Banyak pemimpin tumbuh dari tradisi pendidikan yang mengajarkan kesederhanaan dan keteladanan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan Islam dinilai perlu terus diperkuat.
Di akhir kegiatan, para santri yang telah menyelesaikan pendidikan diharapkan tidak berhenti belajar. Mereka diminta terus mengamalkan ilmu yang diperoleh, menjaga akhlak, serta menjadi kebanggaan keluarga dan daerah.
Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.
Sebab keberhasilan sebuah daerah tidak hanya terlihat dari jalan yang mulus atau gedung yang megah.
Keberhasilan juga terlihat dari generasi yang lahir dengan karakter kuat, memiliki ilmu, dan tetap memegang nilai-nilai agama.
Di Sidrap, pembangunan tampaknya tidak hanya diarahkan pada sawah, jalan, atau investasi.
Pembangunan juga sedang diarahkan pada manusia.
Dan di antara berbagai upaya itu, pendidikan Islam menjadi salah satu fondasi yang terus dijaga.
Melalui momentum penamatan santri di Panca Rijang, Nurkanaah mengirim pesan bahwa masa depan Sidrap tidak dibangun oleh banyaknya jumlah lulusan, melainkan oleh kualitas generasi yang dihasilkan.
Sebuah pesan yang sederhana.
Namun justru itulah yang sering terlupakan.
