Sidrap, katasulsel.com — Ini bukan Jakarta. Bukan Surabaya. Tapi beberapa hari di awal Juli nanti, Sidrap akan berperilaku seperti kota besar yang kelelahan menampung dirinya sendiri.

65.000 orang datang sekaligus.

Angka itu terdengar seperti statistik. Dingin. Jauh. Tapi di lapangan, angka itu berubah jadi piring-piring nasi yang harus disiapkan lebih banyak, kamar-kamar yang tiba-tiba disulap dari ruang tamu, dan jalanan yang mendadak penuh suara motor, bus, dan orang-orang yang tidak saling kenal tapi punya tujuan yang sama: Porsenijar 2026.

Biasanya Sidrap tenang. Kadang terlalu tenang. Tapi 2–6 Juli nanti, ketenangan itu seperti ditarik pelan-pelan dari permukaan.

Digantikan keramaian.

Dan uang.

Ekonomi daerah sering dibicarakan dengan grafik. Dengan angka pertumbuhan. Dengan tabel. Tapi Sidrap nanti tidak butuh grafik untuk merasakan ekonomi bergerak.

Ia akan melihatnya langsung di warung nasi.

Seorang ibu yang biasanya memasak untuk 20 porsi, tiba-tiba harus menanak untuk 100. Seorang pemuda yang biasanya menganggur sore hari, berubah jadi pemandu parkir dadakan. Rumah-rumah warga yang biasanya hanya membuka pintu untuk tamu keluarga, kini membuka tulisan kecil: “Homestay”.

Sederhana. Cepat. Spontan.

Tapi justru di situ ekonomi paling jujur bekerja.

Bayangkan ini: satu orang peserta membelanjakan Rp100 ribu per hari. Kali 65.000 orang. Kalikan lima hari.

Angkanya bukan lagi kecil.

Ia berubah jadi arus uang miliaran rupiah yang bergerak tanpa sempat mengendap di satu tempat.

Dari kantong peserta, ke pedagang kaki lima. Dari pedagang kaki lima, ke pemasok bahan makanan. Dari tukang ojek, ke SPBU. Dari pemilik kos, ke warung kopi.

Uang itu tidak diam.

Ia berputar.

Cepat.

Seperti kipas yang diputar keras di siang panas Sidrap.

Tapi yang menarik bukan hanya uangnya.

Melainkan siapa yang menangkapnya lebih dulu.

Karena di setiap event besar, selalu ada dua jenis orang: mereka yang menunggu, dan mereka yang bergerak lebih dulu tanpa banyak hitung-hitungan.

Yang menunggu akan berkata: “kita lihat nanti saja.”

Yang bergerak sudah menyiapkan kursi tambahan sejak sekarang.

Yang menunggu akan mengeluh harga naik.

Yang bergerak sudah stok air mineral dari jauh hari.

Pemerintah daerah tentu sibuk dengan hal-hal besar: keamanan, transportasi, panggung, jadwal, tamu resmi. Semua harus rapi. Semua harus berjalan.

Tapi ekonomi sesungguhnya tidak selalu lahir dari rapat-rapat resmi itu.

Ia lahir dari halaman rumah warga.

Dari teras yang disulap jadi kamar tidur.

Dari dapur yang tidak pernah benar-benar istirahat selama lima hari.

Sidrap akan menjadi “kota dadakan”.

Kota tanpa status kota.

Kota tanpa wali kota baru.

Tapi dengan satu ciri yang jelas: uang beredar lebih cepat dari biasanya.

Dan seperti semua kota dadakan, ia akan menghilang pelan-pelan setelah acara selesai.

Warung kembali sepi.

Homestay kembali jadi ruang tamu.

Parkir kembali kosong.

Tapi jejaknya tertinggal.

Bagi sebagian orang, lima hari itu adalah rezeki setahun.

Bagi yang lain, hanya keramaian biasa yang lewat begitu saja.

Dan mungkin di situlah pertanyaan paling sederhana tapi paling penting itu muncul di Sidrap:

bukan siapa yang juara di arena Porsenijar,

tapi siapa yang benar-benar menang di luar arena—di tempat uang berputar tanpa jeda, selama 65 ribu orang itu masih ada di sini. (*)