Sidrap, katasulsel.com — Ada pertandingan yang selesai ketika wasit meniup peluit panjang.

Ada pula pertandingan yang sebenarnya sudah bisa ditebak arahnya jauh sebelum laga berakhir.

Belawa FC bertahan.

Amanah RD99 FC menunggu.

Begitulah gambaran yang terlihat di Stadion Ganggawa saat kedua tim berduel memperebutkan tiket semifinal Sidrap Cup 2026, Selasa sore.

Belawa FC tidak bermain buruk.

Mereka berani menyerang. Mereka berani melawan. Bahkan beberapa kali mampu membuat pendukung Amanah RD99 FC menahan napas.

Namun sepak bola level turnamen sering kali ditentukan oleh pengalaman.

Dan di sinilah perbedaannya terlihat.

Amanah RD99 FC tidak terburu-buru.

Mereka seperti tahu kapan harus menyerang dan kapan harus menunggu.

Saat peluang pertama datang pada menit ke-31, Asir Azis langsung mengubahnya menjadi gol lewat tendangan bebas yang membuat Stadion Ganggawa bergemuruh.

Gol itu membuat permainan berubah.

Belawa FC mulai mengejar.

Amanah RD99 FC mulai mengendalikan.

Babak kedua menjadi gambaran paling jelas mengenai perbedaan keduanya.

Ketika Belawa FC mencoba bangkit, Amanah RD99 FC justru menunjukkan kedewasaan permainan yang jarang terlihat di level turnamen lokal.

Mereka tidak panik.

Mereka tidak kehilangan bentuk permainan.

Mereka hanya menunggu celah.

Dan ketika celah itu muncul, Komang Tri menghukumnya menjadi gol kedua.

Saat Belawa FC mencoba mempertaruhkan segalanya untuk mengejar ketertinggalan, Kahar Kalu datang menutup cerita.

Gol ketiga pada menit ke-78 membuat pertandingan praktis berakhir sebelum peluit panjang dibunyikan.

Yang menarik, kemenangan ini tidak dibangun oleh satu bintang.

Tidak ada pemain yang mencetak dua atau tiga gol.

Justru sebaliknya.

Asir Azis, Komang Tri, dan Kahar Kalu bergantian menjadi pembeda.

Itulah yang membuat Amanah RD99 FC terlihat semakin berbahaya.

Mereka tidak bergantung pada satu nama.

Mereka memiliki banyak cara untuk menang.

Dan itulah yang kini membuat tim-tim lain mulai melirik serius ke arah ruang ganti Amanah RD99 FC.

Karena setelah perempat final ini, pesan mereka semakin jelas.

Mereka bukan tim yang datang untuk menikmati atmosfer Sidrap Cup.

Mereka datang untuk membawa pulang pialanya. (*)