Oleh: Edy Basri

Pagi di Baranti tidak pernah tergesa.

Angin bergerak pelan di antara pohon-pohon buah. Ada lengkeng. Ada jeruk. Ada jambu. Tapi yang paling sering dicari mata orang yang datang ke kebun itu biasanya satu: alpukat.

Di kebun itulah Haji Pilli—Zulkifli Zain—lebih sering terlihat seperti “orang biasa” ketimbang seorang legislator DPRD Sulawesi Selatan atau Ketua DPD II Golkar Sidrap. Jas politiknya seperti ditinggal di luar pagar kebun.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Yang tersisa hanya satu: kebiasaan lama yang tidak pernah hilang—merawat tanah.

Hari itu ia tidak sedang menerima tamu penting. Tidak ada meja panjang. Tidak ada mikrofon. Hanya meja kayu kecil di bawah rindang pohon, dan sebuah blender mini yang sudah seperti benda wajib di sudut kebunnya.

Orang yang datang kadang heran. “Kenapa di kebun ada blender?”

Ia hanya tersenyum.

“Biar langsung,” begitu kira-kira jawabannya kalau ditanya.

Langsung apa? Ya langsung dari pohon ke gelas.

Di kebun itu, ia berjalan pelan. Tidak ada langkah tergesa. Tangannya menunjuk satu pohon alpukat yang sudah lama tumbuh. Pohon itu seperti sudah tahu siapa yang datang.

“Ini sudah matang,” katanya pelan, lebih seperti bicara ke diri sendiri.

Lalu satu gerakan kecil terjadi.

Ia memetik sendiri buah itu.

Tidak ada seremoni. Tidak ada foto-foto khusus. Hanya satu alpukat jatuh ke tangan.

Kalau di gedung DPRD, mungkin itu disebut “agenda penting”. Tapi di kebun Baranti, itu hanya disebut: panen.

Di meja kayu itu sudah ada pisau kecil. Sudah ada mangkuk. Sudah ada gula aren yang diletakkan seperti menunggu giliran.

Ia duduk.

Alpukat itu dibelah.

Suara pisau menyentuh daging buah terdengar pelan. Tidak ada yang dramatis, tapi justru di situ letak menariknya: semuanya berjalan sederhana, seperti rutinitas yang tidak perlu dijelaskan.

Biji dibuang. Daging dikeruk.

…………Baca yuk

Tangannya tidak ragu. Tidak terburu-buru. Seperti orang yang sudah lama paham bahwa hasil kebun tidak bisa dipaksa cepat.

Setelah itu, alpukat masuk ke blender mini.

Sedikit air dituang.

Lalu gula aren.

Klik.

Mesin kecil itu hidup sebentar saja. Tidak lama. Tidak bising.

Selesai.

Segelas jus alpukat berdiri di atas meja kayu itu.

Haji Pilli menatapnya sebentar.

Lalu minum.

Tidak ada komentar berlebihan. Tidak ada gaya “review rasa”. Hanya satu tarikan napas kecil, seperti orang yang selesai dengan sesuatu yang ia mulai sendiri.

Di titik itu, kebun Baranti seperti berhenti menjadi kebun biasa.

Ia berubah jadi ruang cerita.

Orang-orang yang pernah datang ke sini tahu, kebun ini bukan sekadar lahan. Ada kolam ikan. Ada unggas. Ada tanaman yang tumbuh tanpa banyak teori. Bahkan sebagian orang menyebutnya seperti “laboratorium lapangan”—tapi Haji Pilli sendiri tidak pernah menyebut istilah itu dengan serius.

Baginya mungkin lebih sederhana: ini kebun.

Tapi dari kebun ini juga banyak hal dimulai. Diskusi petani. Obrolan harga pupuk. Percakapan politik yang tidak kaku. Bahkan kadang hanya cerita ringan tentang cuaca dan panen.

Tidak semua harus di ruang rapat.

Kadang cukup di bawah pohon alpukat.

“Kalau di sini lebih enak bicara,” begitu kata beberapa tamu yang pernah singgah. Entah itu petani, pengusaha, atau sesama politisi.

Haji Pilli hanya mendengar. Lebih sering mendengar daripada bicara panjang.

Mungkin karena tanah memang tidak banyak bicara, tapi selalu mengajarkan sesuatu.

Alpukat di tangannya hari itu seolah mengingatkan hal yang sama.

Bahwa sesuatu yang matang tidak perlu dipercepat.

Bahwa proses selalu punya waktunya sendiri.

Dan bahwa tidak semua hal harus diputuskan di ruang formal.

…………Baca yuk

Di tengah hiruk-pikuk politik daerah, sosok seperti Haji Pilli memang menarik dilihat dari sisi yang tidak biasa. Ia dikenal sebagai legislator, tapi di kebun ini identitas itu seperti melebur.

Yang terlihat justru seseorang yang nyaman dengan tanahnya sendiri.

Orang yang tahu kapan harus duduk, kapan harus memetik, dan kapan harus diam.

Kebunnya tidak rapi seperti taman kota. Tapi justru di situlah hidupnya terasa.

Lengkeng tumbuh berdampingan dengan jeruk. Kolam ikan ada di dekat area pohon. Tidak ada sekat yang terlalu kaku.

Seperti cara berpikir yang cair.

Kadang orang datang bukan untuk bicara politik. Tapi hanya untuk duduk sebentar, minum teh atau kopi, lalu pulang dengan kepala yang lebih ringan.

Kebun ini seperti tempat singgah, bukan tempat pamer.

Dan Haji Pilli ada di tengah itu semua.

Bukan sebagai pusat perhatian. Tapi sebagai bagian dari kebun itu sendiri.

Selesai minum jus alpukatnya, ia tidak buru-buru berdiri.

Gelas itu ia taruh pelan di meja.

Ia melihat sekeliling.

Pohon-pohon diam. Angin lewat pelan. Kolam ikan tidak banyak suara.

Seperti dunia sedang melambat sedikit saja.

“Kalau di kebun, kita bisa ingat lagi yang sederhana,” begitu mungkin kalimat yang tidak ia ucapkan, tapi terasa di situ.

Karena memang tidak semua hal harus dijelaskan dengan kata-kata.

Kadang cukup dengan satu buah alpukat, satu blender kecil, dan satu pagi yang tenang di Baranti. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.