Yogyakarta, Katasulsel.com — Nama Bolosego kembali memenuhi linimasa media sosial.

Bukan karena menu andalannya.

Bukan pula karena antrean pelanggan.

Kali ini yang menjadi perhatian publik adalah curahan hati pemilik usaha kuliner tersebut yang mengaku menghadapi tagihan kekurangan pajak hingga miliaran rupiah.

Dyah Laily Fardisa atau yang lebih dikenal sebagai Mbak Dy mengungkapkan hal itu melalui sebuah video yang kemudian viral di berbagai platform media sosial.

Dalam video tersebut, ia menegaskan bahwa Bolosego bukan usaha yang mengabaikan kewajiban kepada negara.

Menurutnya, selama ini pajak yang dibayarkan usahanya telah mencapai lebih dari Rp500 juta.

Namun, di tengah perjalanan bisnis yang telah berkembang dan mempekerjakan ratusan karyawan, muncul persoalan baru yang membuatnya terpukul.

Mbak Dy menyebut adanya kewajiban pajak yang nilainya berada di kisaran Rp1,3 miliar hingga Rp1,5 miliar.

Angka itu sontak memancing perhatian publik.

Banyak warganet terkejut mendengar nominal yang disebutkan, sementara sebagian lainnya mempertanyakan duduk persoalan yang sebenarnya.

Di balik angka tersebut, yang paling menyita perhatian justru pengakuan Mbak Dy mengenai kondisi yang dialaminya.

Ia mengaku mengalami tekanan berat akibat persoalan yang dihadapi.

Bahkan, ia menyebut sempat sulit tidur dan merasa kelelahan secara mental.

Dalam salah satu bagian video yang banyak dibagikan ulang, Mbak Dy mengungkapkan kalimat yang menyentuh perhatian publik.

Ia mengaku pasrah jika harus kehilangan seluruh aset yang dimiliki.

Baginya, memulai kembali dari nol mungkin menjadi pilihan terakhir jika semua yang diperjuangkan selama ini harus berakhir.

Curhatan itu menjadi viral karena banyak pelaku usaha mengaku memahami tekanan yang dirasakan ketika harus berhadapan dengan persoalan administrasi dan keuangan dalam skala besar.

Polemik ini muncul tidak lama setelah nama Bolosego lebih dulu menjadi sorotan akibat kasus dugaan pungutan liar saat hendak beroperasi menggunakan food truck di kawasan Alun-Alun Kidul Yogyakarta.

Kasus tersebut sempat ramai diperbincangkan dan menjadi perhatian aparat penegak hukum.

Kini, sorotan publik beralih pada persoalan perpajakan yang diungkap langsung oleh pemilik usaha.

Meski demikian, hingga kini belum dipublikasikan secara rinci dasar perhitungan tagihan yang disebutkan dalam video tersebut.

Karena itu, publik masih menunggu penjelasan lebih lengkap dari pihak-pihak terkait mengenai latar belakang munculnya angka Rp1,3 miliar hingga Rp1,5 miliar tersebut.

Di tengah derasnya dukungan dan komentar yang membanjiri media sosial, kisah Bolosego menjadi gambaran bagaimana sebuah usaha yang dibangun dari bawah dapat menghadapi tantangan yang datang dari berbagai arah.

Dan di balik angka miliaran rupiah yang ramai dibicarakan, ada satu kalimat yang paling membekas di benak banyak orang.

“Ambil saja semua yang dimiliki Bolosego, saya mulai lagi dari nol.”

Kalimat itu kini menjadi simbol kegelisahan seorang pelaku usaha yang tengah berjuang mempertahankan apa yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. (*)