“Kalau hujan, kami susah bawa hasil panen. Kalau kemarau, tanaman kekurangan air,” ungkapnya dengan nada pelan namun tegas.
Kalimat itu sederhana, tapi menggambarkan satu masalah besar yang berulang setiap tahun.
Wakil Bupati merespons cepat. Ia meminta agar kelompok tani segera menyusun proposal resmi terkait kebutuhan infrastruktur tersebut untuk ditindaklanjuti oleh dinas teknis.
“Silakan buat proposalnya. Itu penting agar kami bisa melihat langsung kebutuhan di lapangan,” tegasnya.
Respons itu disambut tepuk tangan ringan dari para petani. Ada harapan kecil yang muncul: bahwa suara mereka tidak berhenti di ruangan itu saja.
Di balik kegiatan penyerahan bibit jagung, terlihat jelas bahwa pertanian Enrekang tidak hanya soal benih dan pupuk. Ia juga soal jalan yang bisa dilalui, air yang bisa mengalir, dan akses yang tidak memutus rantai hasil panen.
Bibit bisa datang dari program. Tapi jalan tani, bagi petani, adalah “urat nadi” yang menentukan apakah hasil kerja mereka sampai ke pasar atau tertahan di kebun.
Dan hari itu di Enrekang, bibit jagung memang sudah dibagikan. Namun pekerjaan rumah yang lebih panjang masih terus menunggu di luar aula. (*)
