“Apa yang disampaikan harus kami pelajari dulu seperti apa normatifnya dan legalitasnya. Saya harus bicara berdasarkan data,” tegasnya.

Ardi juga mengaku baru pertama kali membaca substansi tuntutan HMPLT tepat saat aksi berlangsung.

Artinya, belum ada telaah internal sebelumnya.

“Naskah ini baru saja saya terima di depan ini. Saya sama sekali baru membaca tentang ini, jadi saya harus komunikasi dulu dengan pemeriksa terkait hal-hal di dalamnya,” ujarnya.

Meski begitu, satu pesan penting disampaikan BPK Sulsel: pintu komunikasi tidak ditutup.

Mahasiswa dipersilakan mengirim laporan tambahan maupun bukti pendukung melalui jalur resmi lembaga.

“Kami selalu membuka jalur komunikasi dengan teman-teman mahasiswa. Jika masih ada yang mau dilaporkan silakan disampaikan melalui website kami atau berhubungan langsung dengan pegawai penghubung,” jelas Ardi.

Bagi HMPLT, respons itu dianggap sebagai langkah awal yang cukup penting.

Setidaknya, tuntutan mereka tidak berhenti di atas pengeras suara.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyerahkan dokumen pernyataan sikap resmi kepada pihak BPK Sulsel sebagai bentuk desakan moral agar dugaan persoalan anggaran di Luwu Timur diperiksa secara serius sesuai kewenangan lembaga auditor negara.

Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan.

Tidak ada kericuhan.

Yang terdengar justru satu kalimat yang berulang kali ditekankan di depan massa:

“BPK harus bicara berdasarkan data.” (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Makassar terbaru di sini