Petaninya bekerja.
Tetapi hasilnya belum sempat masuk ke tabel statistik.
Faktor kedua adalah proyek perbaikan irigasi pada jalur Tanete-Amparita.
Kerusakan saluran yang terjadi sebelumnya membuat sebagian petani harus menyesuaikan jadwal tanam.
Penyesuaian itu berdampak langsung pada waktu panen.
Saat panen bergeser, angka ekonomi yang dihitung per triwulan ikut berubah.
Padahal tujuan perbaikan irigasi justru untuk meningkatkan produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
Kini proyek tersebut telah selesai.
Air kembali mengalir.
Lahan kembali produktif.
Dan para petani kembali memasuki siklus tanam yang normal.
Karena itu, Syahar tidak melihat angka 6,88 persen sebagai kemunduran.
Sebaliknya, ia melihatnya sebagai angka yang menyimpan potensi pertumbuhan yang belum keluar seluruhnya.
Optimisme itu lahir dari pengalaman tahun sebelumnya.
Pada 2025, Sidrap juga tidak langsung melesat pada awal tahun. Namun memasuki triwulan-triwulan berikutnya, pertumbuhan ekonomi daerah ini meningkat tajam hingga menjadi yang tertinggi di Sulawesi Selatan secara tahunan.
Pola serupa diyakini akan kembali terjadi tahun ini.
“Tahun lalu juga begitu. Triwulan pertama biasa saja. Setelah itu pertumbuhan naik cepat. Saya yakin tahun ini kita akan bergerak lebih kuat lagi,” ujar Syahar.
Keyakinan itu bukan sekadar harapan.
Selama beberapa bulan terakhir, sektor pertanian Sidrap terus menunjukkan geliat positif.
