Oleh: Edy Basri

Di depan sekolah, hampir selalu ada satu pemandangan yang sama.

Anak-anak berlarian keluar kelas.

Sebagian langsung pulang.

Sebagian lagi mengerubungi penjual bakso tusuk.

Bakso tusuk memang punya kekuatan yang aneh.

Harganya terjangkau.

Rasanya enak.

Apalagi kalau sausnya agak banyak.

Saya melihat pemandangan itu lagi beberapa hari lalu.

Yang menarik perhatian saya bukan bakso tusuknya.

Bakso tusuk tidak pernah salah.

Yang sering membuat masalah justru tangan yang memegangnya.

Tangan kecil itu baru saja bermain.

Ada yang memegang bola.

Ada yang memegang meja.

Ada yang memegang pagar sekolah.

Ada yang mungkin baru saja jatuh di lapangan.

Lalu tanpa cuci tangan, bakso tusuk berpindah ke mulut.

Anak-anak memang begitu.

Kita dulu juga begitu.

Bedanya, sekarang kita tahu lebih banyak tentang bagaimana penyakit berpindah dari satu orang ke orang lain.

Dan ternyata kendaraan favorit kuman bukan pesawat.

Bukan kapal.

Bukan pula mobil mewah.

Kendaraan favorit mereka adalah tangan manusia.

Murah.

Praktis.

Dan selalu tersedia.

Karena itulah saya menganggap apa yang dilakukan seorang mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin bernama Marlia di SD Negeri 7 Kelurahan Benteng, Sidrap, bukan perkara kecil.

Ia datang bukan membawa obat.

Bukan membawa ambulans.

Bukan pula membawa alat kesehatan canggih.

Ia hanya membawa satu pelajaran sederhana.

Cara mencuci tangan yang benar.

Kelihatannya remeh.

Tetapi justru hal-hal remeh sering menyelamatkan banyak orang.

Program itu diberi nama BERSIH.

Singkatan dari Bersama Raih Sehat dengan 6 Langkah.

Namanya sederhana.

Mudah diingat.

Dan yang lebih penting, mudah dipraktikkan.

Sebanyak 110 siswa dari kelas I sampai kelas VI mengikuti kegiatan tersebut.

Mereka berkumpul di aula sekolah.

Belajar sesuatu yang selama ini mereka pikir sudah bisa.

Ternyata belum tentu.

Saya sendiri sempat berpikir, mencuci tangan ya mencuci tangan saja.

Basahi tangan.

Gosok sebentar.

Selesai.

Ternyata ilmu kesehatan berkata lain.

Ada enam langkah yang harus dilakukan.

Enam.

Bukan satu.

Bukan dua.

Ada sela-sela jari yang sering luput.

Ada punggung tangan yang sering terlupakan.

Ada ujung jari yang justru menjadi tempat favorit berkumpulnya berbagai mikroorganisme.

Kalau dipikir-pikir, tangan manusia memang luar biasa sibuk.

Pagi memegang gagang pintu.

Siang memegang uang.

Sore memegang telepon genggam.

Malam memegang makanan.

Kita jarang memikirkan berapa banyak benda yang disentuh tangan dalam sehari.

Padahal di situlah lalu lintas terbesar kuman berlangsung.

Yang membuat saya senang, anak-anak SD Negeri 7 Benteng itu tampak antusias.

Mereka menjawab pertanyaan.

Mereka tertawa.

Mereka memperagakan enam langkah mencuci tangan.

Bahkan sebagian mengaku baru mengetahui bahwa mencuci tangan ternyata ada tekniknya.

Saya membayangkan salah satu dari mereka pulang ke rumah.

Lalu berkata kepada ibunya:

“Bu, cuci tangannya bukan begitu.”

Bayangkan kalau itu terjadi.

Artinya ilmu yang diajarkan tidak berhenti di aula sekolah.

Ia ikut pulang ke rumah.

Masuk ke lingkungan keluarga.

Menular dalam arti yang baik.

Kadang kita terlalu sering membicarakan kesehatan dari sisi yang besar-besar.

Rumah sakit baru.

Alat medis modern.

Program kesehatan miliaran rupiah.

Padahal banyak penyakit bisa dicegah dengan sesuatu yang sangat sederhana.

Sabun.

Air mengalir.

Dan kebiasaan.

Tiga hal yang sering kita anggap biasa.

Padahal nilainya luar biasa.

Diare yang membuat anak tidak masuk sekolah.

Flu yang menyebar di ruang kelas.

Infeksi yang berpindah dari satu anak ke anak lain.

Sebagian besar bisa dikurangi hanya dengan kebiasaan mencuci tangan yang benar.

Mungkin karena terlalu sederhana, kita sering meremehkannya.

Padahal dalam dunia kesehatan, pencegahan selalu lebih murah daripada pengobatan.

Lebih mudah mencuci tangan selama beberapa detik daripada berhari-hari terbaring sakit.

Lebih mudah membeli sabun daripada membeli obat.

Lebih mudah membangun kebiasaan daripada memulihkan kesehatan yang sudah terlanjur terganggu.

Karena itu saya melihat kegiatan yang dilakukan Marlia bukan sekadar program KKN.

Ini adalah investasi.

Investasi yang tidak terlihat bentuk fisiknya.

Tidak ada gedung yang dibangun.

Tidak ada jalan yang diaspal.

Tidak ada jembatan yang diresmikan.

Tetapi ada pengetahuan yang ditanam.

Dan pengetahuan yang ditanam sejak kecil biasanya bertahan lebih lama.

Mungkin beberapa tahun lagi anak-anak itu sudah lupa nama programnya.

Mungkin lupa tanggal kegiatannya.

Mungkin lupa siapa pematerinya.

Tetapi jika mereka masih terbiasa mencuci tangan sebelum makan, setelah bermain, dan setelah keluar dari toilet, maka sesungguhnya pelajaran itu masih hidup.

Sebab kesehatan yang besar sering lahir dari kebiasaan yang kecil.

Dan kadang, perubahan besar itu dimulai dari seorang anak yang menunda makan bakso tusuknya beberapa detik.

Hanya untuk mencuci tangan terlebih dahulu. (*)

Topik Terkait: Sidrap
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini