Sidrap, katasulsel.com — Banyak yang terkejut saat melihat data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan.

Kabupaten Sidrap, yang selama ini dikenal sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Sulsel, tercatat hanya tumbuh 6,88 persen pada Triwulan I 2026.

Bagi sebagian orang, angka itu dianggap biasa. Bahkan tidak cukup untuk menempatkan Sidrap di deretan teratas kabupaten dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi.

Namun, bagi Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif, angka tersebut tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya di lapangan.

“Kalau melihat sawah dan aktivitas petani sekarang, sebenarnya tenaga ekonomi Sidrap masih sangat besar. Hanya saja belum seluruhnya masuk dalam pencatatan,” katanya saat wawancara eksklusif, Rabu malam, 10 Juni 2026.
Syahar kemudian mengungkap fakta menarik.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sidrap pada Triwulan I ibarat pertandingan sepak bola yang baru berjalan babak pertama.
Skor sudah muncul di papan, tetapi banyak peluang yang belum dihitung.
Peluang pertama berada di dua kecamatan yang saat proses pendataan BPS berlangsung masih menunggu masa panen.

Padahal daerah-daerah tersebut merupakan sentra produksi pertanian yang memiliki kontribusi besar terhadap pergerakan ekonomi masyarakat.

Akibatnya, hasil panen yang baru berlangsung setelah proses pencatatan selesai tidak ikut masuk dalam hitungan pertumbuhan Triwulan I.

Dalam bahasa sederhana, gabahnya ada.
Sawahnya ada.

Petaninya bekerja.

Tetapi hasilnya belum sempat masuk ke tabel statistik.

Faktor kedua adalah proyek perbaikan irigasi pada jalur Tanete-Amparita.

Kerusakan saluran yang terjadi sebelumnya membuat sebagian petani harus menyesuaikan jadwal tanam.
Penyesuaian itu berdampak langsung pada waktu panen.

Saat panen bergeser, angka ekonomi yang dihitung per triwulan ikut berubah.
Padahal tujuan perbaikan irigasi justru untuk meningkatkan produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
Kini proyek tersebut telah selesai.
Air kembali mengalir.

Lahan kembali produktif.

Dan para petani kembali memasuki siklus tanam yang normal.

Karena itu, Syahar tidak melihat angka 6,88 persen sebagai kemunduran.
Sebaliknya, ia melihatnya sebagai angka yang menyimpan potensi pertumbuhan yang belum keluar seluruhnya.
Optimisme itu lahir dari pengalaman tahun sebelumnya.

Pada 2025, Sidrap juga tidak langsung melesat pada awal tahun. Namun memasuki triwulan-triwulan berikutnya, pertumbuhan ekonomi daerah ini meningkat tajam hingga menjadi yang tertinggi di Sulawesi Selatan secara tahunan.

Pola serupa diyakini akan kembali terjadi tahun ini.

“Tahun lalu juga begitu. Triwulan pertama biasa saja. Setelah itu pertumbuhan naik cepat. Saya yakin tahun ini kita akan bergerak lebih kuat lagi,” ujar Syahar.
Keyakinan itu bukan sekadar harapan.
Selama beberapa bulan terakhir, sektor pertanian Sidrap terus menunjukkan geliat positif.

Program peningkatan indeks pertanaman terus berjalan.

Perbaikan infrastruktur pertanian dilakukan di berbagai wilayah.

Produktivitas sawah meningkat.

Dan musim panen berikutnya diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian daerah.
Karena itulah angka 6,88 persen lebih tepat dibaca sebagai jeda, bukan perlambatan.

Sidrap bukan kehilangan tenaga.
Sidrap hanya belum menampilkan seluruh tenaganya.

Saat daerah lain menikmati hasil yang sudah tercatat, sebagian kekuatan ekonomi Sidrap masih berada di hamparan sawah, menunggu waktu panen dan menunggu giliran masuk dalam laporan statistik.

Jika prediksi pemerintah daerah benar, maka Triwulan II akan menjadi momentum ketika angka-angka itu mulai mengejar realitas di lapangan.

Dan ketika panen yang tertunda akhirnya tercatat, Sidrap berpeluang kembali menunjukkan dirinya sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.

Sebab di Bumi Nene Mallomo, pertumbuhan ekonomi tidak hanya dihitung dari angka. Ia juga tumbuh dari setiap bulir padi yang menguning di sawah dan belum sempat masuk ke lembar statistik. (edy)