Bulukumba, Katasulsel.com — Dua daerah di pesisir selatan Sulawesi Selatan, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Bantaeng, menjadi perhatian dalam data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) terkait kondisi kemiskinan tahun 2025.
Data BPS Sulawesi Selatan mencatat, jumlah penduduk miskin di Bulukumba pada Maret 2025 mencapai 25,88 ribu orang. Sementara persentase penduduk miskinnya berada di angka 6,06 persen.
Angka tersebut menempatkan Bulukumba sebagai salah satu daerah dengan jumlah penduduk miskin yang cukup besar di Sulawesi Selatan, meski secara persentase masih berada di bawah sejumlah kabupaten lain.
Sementara itu, Kabupaten Bantaeng mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 14,74 ribu orang dengan tingkat persentase kemiskinan sebesar 7,68 persen.
Jika dibandingkan, jumlah warga miskin Bulukumba lebih banyak dibanding Bantaeng. Namun secara persentase, tingkat kemiskinan Bantaeng tercatat lebih tinggi.
Data tersebut bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 yang dirilis BPS Sulawesi Selatan pada Februari 2026.
Dalam indikator kemiskinan, BPS juga mencatat garis kemiskinan sebagai batas minimum pengeluaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar. Untuk Bulukumba, garis kemiskinan Maret 2025 berada pada angka Rp444.994 per kapita per bulan.
Sedangkan Bantaeng memiliki garis kemiskinan sebesar Rp453.167 per kapita per bulan.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengentasan kemiskinan di setiap daerah memiliki karakter berbeda. Ada daerah dengan jumlah penduduk miskin tinggi karena jumlah penduduk besar, sementara daerah lain memiliki persentase kemiskinan lebih tinggi meski jumlah penduduk miskinnya lebih sedikit.
Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak terhadap masyarakat bawah, terutama melalui penguatan sektor unggulan seperti pertanian, perikanan, UMKM, serta penciptaan lapangan kerja.
Untuk Bulukumba yang dikenal sebagai daerah maritim dan sentra perahu pinisi, penguatan ekonomi masyarakat pesisir serta sektor produktif menjadi salah satu kunci menekan angka kemiskinan.
Sementara Bantaeng yang berkembang sebagai kawasan industri juga dituntut memastikan pertumbuhan investasi mampu membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Data kemiskinan ini menjadi gambaran penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun strategi pembangunan agar penurunan angka kemiskinan tidak hanya menjadi target statistik, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat.
