Sidrap, katasulsel.com — Di sebuah sudut Kelurahan Wettee, Kecamatan Panca Lautang, ada rumah yang nyaris tak pernah masuk dalam peta perhatian.

Rumah itu berdiri sederhana, tua, dan seperti ikut menua bersama penghuninya: Ladali, seorang perempuan yang sudah puluhan tahun menjalani hidup seorang diri.

Jumat (19/6/2026), suasana di halaman rumah itu tidak seperti biasanya. Warga berdatangan. Anak-anak sekolah ikut menyambut. Di tengah keramaian kecil itu, hadir sosok Syaharuddin Alrif bersama rombongan pemerintah daerah.

Tak ada seremoni besar. Yang ada justru hening yang pelan-pelan berubah jadi haru.

Ketika Syaharuddin melangkah masuk dan melihat langsung kondisi rumah Ladali, suasana mendadak berbeda. Dinding yang rapuh, ruang yang serba terbatas, dan kesunyian panjang yang seolah menempel di setiap sudut rumah itu.

Ladali hidup sendiri. Sudah sekitar 30 tahun ia menjalani hari-hari tanpa keluarga yang mendampingi. Hanya waktu, kesabaran, dan keteguhan yang menemani.

Di titik itu, rombongan yang datang tidak lagi sekadar pejabat yang meninjau. Mereka seperti manusia yang sedang berhadapan dengan potret kehidupan yang terlalu lama dibiarkan berjalan sendiri.

Syaharuddin tampak terdiam lebih lama dari biasanya. Ada jeda yang sulit dijelaskan—antara melihat, mendengar, dan merasakan langsung kehidupan yang selama ini hanya masuk laporan di atas kertas.

Pemerintah daerah, bersama Dinas Kesehatan, Disdukcapil, Baznas Sidrap, Camat Panca Lautang, dan unsur terkait lainnya, langsung diminta bergerak cepat. Bukan sekadar rencana, tapi tindakan.

“Rumah ini harus segera dibangun. Kita buat layak huni, semi permanen, dengan fasilitas dasar yang benar-benar bisa dipakai untuk hidup yang lebih manusiawi,” begitu penegasan yang disampaikan di tengah kunjungan itu.

Lebih dari sekadar bangunan, yang ingin dikejar adalah rasa aman. Tempat berteduh yang tidak lagi membuat penghuninya bergantung pada ketahanan semata.

Syaharuddin juga meminta agar pendataan Ladali tidak berhenti pada rumah. Dokumen kependudukan, layanan kesehatan, hingga akses bantuan sosial harus dipastikan lengkap dan berjalan.

“Tidak boleh ada warga yang hidupnya tidak tersentuh negara,” menjadi garis tegas yang mengalir dari kunjungan itu.

Ketika rombongan bersiap meninggalkan lokasi, suasana perlahan kembali tenang. Namun ada yang berubah di rumah itu. Bukan pada bangunannya—karena itu belum dibangun—melainkan pada harapan.

Ladali mungkin masih akan menunggu beberapa waktu lagi. Tapi untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia tidak lagi merasa benar-benar sendiri dalam daftar perhatian.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini