Gowa, Katasulsel.com β Sebuah sudut yang sebelumnya dipenuhi gulma di SD Inpres Pattung, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, kini menjelma menjadi taman obat keluarga (TOGA) yang tertata rapi dan edukatif. Lebih dari 20 jenis tanaman herbal tumbuh di area tersebut, menjadi sarana belajar sekaligus media pengenalan kesehatan alami bagi para siswa.
Transformasi ini merupakan hasil program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan tim dosen Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) PNBP Fakultas Tahun Anggaran 2026.
Program tersebut dipimpin oleh Dr. Eng. Sulfikar, S.Si., M.T., dengan anggota tim Wahyuni Agus, M.S. Farm, Fauziah Hasdin, S.Si., M.Farm.Klin., dan Gusma Harfiana Abbas, S.Si., M.Si. Tidak hanya merevitalisasi taman yang lama terbengkalai, tim juga membekali siswa dan guru dengan keterampilan mengolah tanaman herbal menjadi produk yang memiliki nilai guna dan manfaat praktis.
Dalam kegiatan lapangan yang berlangsung pada 23 Mei 2026, sebanyak 24 siswa anggota Pramuka bersama guru pendamping dan staf sekolah, dengan total 34 peserta, mengikuti tiga rangkaian kegiatan utama, yakni penataan taman TOGA, pelatihan pembuatan minyak gosok herbal, serta pelatihan pembuatan sabun cair alami.
Revitalisasi Taman Jadi Sarana Belajar Interaktif
Sebelum program dimulai, kondisi taman TOGA sekolah dinilai kurang terawat. Dari sejumlah tanaman yang pernah ditanam, hanya empat jenis yang masih bertahan, yakni keji beling, tobo-tobo, jahe, dan lengkuas. Selain itu, tanaman-tanaman tersebut tidak memiliki penataan maupun label identifikasi yang memadai.
Padahal, pihak sekolah memiliki antusiasme tinggi untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran berbasis praktik. Keterbatasan sarana, panduan teknis, dan pendampingan menjadi tantangan utama yang selama ini dihadapi.
Melalui pendekatan partisipatif, tim pengabdian UNM melibatkan para siswa secara langsung dalam proses revitalisasi taman. Mereka bersama-sama membersihkan gulma, menyiapkan lubang tanam, hingga menanam berbagai jenis tanaman herbal baru seperti kunyit, kencur, temulawak, kumis kucing, meniran, salam, sambung nyawa, brotowali, sereh, pandan, dan sejumlah tanaman lainnya.
Kini, setiap tanaman dilengkapi papan identifikasi bilingual yang memuat nama lokal, nama ilmiah, gambar berwarna, manfaat, serta cara penggunaannya. Kehadiran papan informasi tersebut menjadikan taman TOGA sebagai media pembelajaran mandiri yang dapat diakses siswa kapan saja.

Menariknya, program ini juga mengintegrasikan sistem produksi pupuk cair organik dari galon isi ulang bekas yang sebelumnya telah dimiliki sekolah. Langkah ini membuat pengelolaan taman tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mengoptimalkan sumber daya yang telah tersedia.
Belajar Mengolah Herbal dan Limbah Rumah Tangga
Selain penataan taman, sesi pelatihan praktik menjadi bagian yang paling diminati peserta.
Pada pelatihan pertama, siswa diajak membuat minyak gosok herbal berbahan dasar jahe, cabai, dan sereh yang diekstrak menggunakan minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO). Selama proses berlangsung, aspek keselamatan kerja diterapkan secara ketat.
Para siswa dilibatkan dalam tahap yang aman seperti sortasi bahan, pencucian, pemotongan dengan pendampingan, penyaringan, hingga pengemasan produk. Sementara proses pemanasan dilakukan sepenuhnya oleh tim pengabdian dan guru pendamping.
Pelatihan kedua berfokus pada pemanfaatan minyak jelantah yang selama ini kerap menjadi limbah rumah tangga. Melalui proses saponifikasi menggunakan kalium hidroksida (KOH), minyak jelantah diolah menjadi sabun cair alami yang diperkaya ekstrak daun kemangi, daun pandan, serta kayu secang sebagai pewarna alami.
Seluruh peserta menggunakan alat pelindung diri berupa sarung tangan dan kacamata pelindung selama praktik berlangsung.
βKami ingin menanamkan sejak dini bahwa limbah bisa bernilai ekonomi dan tanaman di sekitar kita memiliki banyak manfaat,β ujar Ketua Tim Pengabdian, Dr. Eng. Sulfikar.
Hasil Evaluasi Tunjukkan Dampak Positif
Untuk mengukur efektivitas program, tim menerapkan tiga instrumen kuis pascakegiatan.
Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata tingkat jawaban benar mencapai 66,7 persen pada materi TOGA, 82,9 persen pada materi pembuatan minyak gosok herbal, dan 71,4 persen pada materi pembuatan sabun cair.
Capaian tertinggi ditemukan pada aspek yang dialami langsung oleh peserta, seperti manfaat produk herbal, efek hangat jahe, serta penggunaan alat pelindung diri yang masing-masing memperoleh tingkat pemahaman hingga 100 persen.
Meski demikian, tim juga menemukan sejumlah catatan evaluatif. Pada pertanyaan mengenai komposisi minyak gosok herbal, hanya 28,6 persen siswa yang mampu menyebutkan seluruh bahan secara tepat. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding hasil pada soal pilihan ganda yang mencapai 57,1 hingga 100 persen.
Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan kemampuan antara mengenali informasi (recognition) dan mengingat kembali informasi secara mandiri (recall) pada peserta usia sekolah dasar.

Selain itu, muncul pula jawaban seperti βkunyitβ dalam kuis pembuatan minyak gosok, padahal bahan tersebut tidak digunakan dalam formulasi produk. Tim menilai hal ini terjadi akibat interferensi materi karena seluruh kegiatan dilaksanakan dalam satu hari yang sama.
Survei kepuasan terhadap 26 peserta juga mengonfirmasi temuan tersebut. Meskipun tingkat kepuasan rata-rata mencapai 4,18 dari skala 5, skor terendah justru muncul pada aspek kepuasan keseluruhan sebesar 3,83 dan kemudahan mengikuti praktik sebesar 3,96.
Menyiapkan Program Berkelanjutan
Berdasarkan hasil evaluasi, tim pengabdian merekomendasikan sejumlah penyempurnaan untuk pelaksanaan program berikutnya. Beberapa di antaranya adalah memisahkan jadwal setiap kegiatan pada hari yang berbeda, menyediakan kartu resep bergambar yang dapat dibawa pulang siswa, menambah demonstrasi pembanding untuk bahan yang efeknya tidak dapat diamati secara langsung, serta menghadirkan aktivitas penyusunan tahapan berbasis kartu bergambar sebagai alternatif pembelajaran yang lebih aman.
Ke depan, keberlanjutan program akan didorong melalui penunjukan guru koordinator taman TOGA, pembentukan kader siswa di setiap kelas, serta penerapan logbook monitoring secara rutin.
Dengan pendekatan tersebut, taman TOGA SD Inpres Pattung diharapkan tidak sekadar menjadi kebun sekolah, melainkan berkembang sebagai laboratorium hidup yang menumbuhkan literasi kesehatan, kepedulian lingkungan, serta keterampilan hidup bagi siswa sejak usia dini.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
