Menurutnya, dosen di sana tidak anti kritik.
“Kalau pendapat dosen menurut kita kurang cocok, bisa dibantah. Yang penting argumentasinya logis,” katanya.
Ia juga menyebut sistem pendidikan di sana lebih modern. Dosen tidak menjual buku kepada mahasiswa, karena hampir semua materi menggunakan buku elektronik.
“Hubungan dosen dan mahasiswa lebih terbuka. Tidak ada budaya takut berpendapat,” ujarnya.
Hidup Hemat di Kota Mahal
Tinggal di Saint Petersburg juga bukan perkara mudah.
Sebagai kota besar, biaya hidup cukup tinggi. Dalam sebulan, kebutuhan hidup bisa mencapai sekitar Rp5 juta.
Karena itu, Tiro memilih hidup hemat.
Masak sendiri. Belanja sendiri. Mengatur uang sendiri.
“Kalau tiap hari makan di restoran, habis uang,” katanya.
Kehidupan mandiri itulah yang perlahan membentuk kedewasaannya selama hidup jauh dari keluarga.
Dari Mahasiswa Jadi Penulis Buku
Kemampuan Bahasa Rusia yang awalnya menjadi hambatan kini justru berubah menjadi peluang.
Tiro berhasil menulis buku panduan belajar Bahasa Rusia yang diterbitkan Gramedia.
Tidak hanya itu, ia juga membuka kursus online Bahasa Rusia untuk masyarakat Indonesia, baik kelas privat maupun grup.
Dari seorang siswa daerah yang dulu hanya dikenal pandai bernyanyi di sekolah, Tiro perlahan menjelma menjadi anak muda yang membangun jalannya sendiri di negeri orang.
Mimpi Berikutnya: Jadi Pengusaha
Di balik semua pencapaiannya, Tiro ternyata masih menyimpan mimpi lain.
“Kalau sudah selesai kuliah, saya ingin jadi pengusaha,” ujarnya.
Sementara sang ayah, Paulus Turnip, mengaku sejak awal hanya memberi satu pesan kepada anaknya: serius jika sudah memilih jalan hidup.
“Kalau mau bertarung di luar negeri, harus tanggung jawab dan sungguh-sungguh belajar,” katanya.
Dan kini, ribuan kilometer dari Sidikalang, Tiro Turnip sedang membuktikan satu hal sederhana: mimpi anak daerah juga bisa tumbuh sampai Rusia. (*)
