Gowa, Katasulsel.com – Sebuah benteng bisa runtuh, tetapi tidak semua yang ditinggalkannya ikut hilang.
Di kawasan Benteng Somba Opu, Gowa, jejak masa lalu justru dapat ditemukan pada benda-benda yang tersisa. Pecahan bata, keramik, mata uang, tungku, hingga benda yang dahulu digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari tinggalan arkeologi di kawasan tersebut.
Somba Opu pernah menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Gowa. Pada masanya, kawasan ini juga berkembang sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan yang didatangi pedagang dari berbagai wilayah Asia, Nusantara, hingga Eropa.
Benteng tersebut dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna, pada abad ke-16. Letaknya berada di wilayah yang kini menjadi Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa.
Perubahan besar terjadi ketika Gowa berhadapan dengan VOC.
Setelah Perjanjian Bungaya pada 1667, konflik kembali berlangsung. Pemerintah Kabupaten Gowa mencatat Benteng Somba Opu akhirnya jatuh pada 1669.
Benteng kemudian mengalami kehancuran. Sebagian tinggalannya tertimbun dan kawasan tersebut tidak lagi tampil sebagai pusat kekuasaan seperti sebelumnya.
Namun, tanah di kawasan benteng menyimpan benda-benda yang berbeda.
Penelitian Balai Arkeologi Makassar menemukan berbagai tinggalan melalui survei dan penggalian arkeologis. Di antaranya terdapat fragmen bata berhias dengan goresan yang menyerupai aksara Lontara, jejak kaki binatang, bentuk perahu, dan motif tikar.
Bata yang ditemukan tidak semuanya polos.
Penelitian tersebut menunjukkan adanya bata dengan bentuk dan motif hias tertentu. Bagi arkeolog, hiasan pada bata dapat menjadi petunjuk untuk membaca perilaku dan keterampilan masyarakat yang membuat serta menggunakannya.
Temuan lain juga memperlihatkan kehidupan yang pernah berlangsung di kawasan itu.
Di Museum Karaeng Pattingalloang yang berada di kawasan situs, terdapat fragmen meriam, peluru, mata tombak, paku, keramik, mata uang, tungku, mata kail, pedupaan, guci, piring, tempayan, batu asah, hingga peralatan dapur.
Benda-benda tersebut tidak berbicara dengan suara.
Namun, bentuk dan tempat ditemukannya dapat menjadi bahan untuk membaca kehidupan masyarakat pada masa lalu. Sebuah fragmen tungku, misalnya, tidak hanya menunjukkan keberadaan benda dapur. Ia juga menjadi bagian dari jejak aktivitas manusia yang pernah berlangsung di kawasan benteng.
Begitu pula bata.
Hari ini, orang mungkin melihatnya sebagai pecahan tanah liat yang tidak lagi memiliki fungsi. Dalam penelitian arkeologi, benda itu justru dapat menjadi sumber informasi.
Somba Opu kemudian kembali mendapat perhatian melalui penelitian dan upaya pemugaran. Situs yang sempat tertimbun mulai dikenali kembali. Pada 1990, kawasan benteng direkonstruksi dan kemudian berkembang sebagai kawasan wisata sejarah. Di dalamnya terdapat sejumlah rumah adat Sulawesi Selatan serta Museum Karaeng Pattingalloang.
Tetapi kawasan ini tidak hanya menghadapi persoalan bagaimana sejarah dikenalkan kepada pengunjung.
Penelitian mengenai zonasi kawasan Benteng Somba Opu juga mencatat adanya tekanan pembangunan terhadap zona inti situs. Kondisi tersebut menjadi bagian dari persoalan pelindungan kawasan cagar budaya agar tinggalan arkeologi tidak kehilangan konteksnya.
Karena itu, melihat Somba Opu tidak cukup hanya dengan mencari sisa dinding benteng.
Ada benda-benda kecil yang justru menyimpan informasi lebih jauh. Bata yang memiliki goresan. Pecahan keramik. Sisa peralatan rumah tangga. Benda-benda yang pernah disentuh, digunakan, lalu tertinggal.
Di kawasan yang dahulu menjadi pusat kekuasaan Gowa itu, sebagian jejaknya kini berada di museum. Sebagian lainnya masih menjadi bagian dari tanah situs.
Yang tersisa dari Somba Opu bukan hanya dinding yang pernah berdiri. Ada pecahan-pecahan kecil yang masih membuat orang bertanya: siapa yang membuatnya, siapa yang menggunakannya, dan kehidupan seperti apa yang pernah berlangsung di balik benteng itu.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
