Feri menyinggung anggapan yang mengejek dosen karena turun ke jalan. Ia mengaku dirinya bersama Charles Simabura pernah menjadi sasaran olok-olok semacam itu.

β€œProf. Dosen kok turun ke jalan,” tuturnya, menggambarkan kritik yang ia terima.

Bagi Feri, anggapan tersebut menunjukkan cara pandang yang keliru tentang peran intelektual.

β€œKalau kemudian rakyatnya sengsara, orang terdidiknya harus turun,” tegasnya.

Dalam demokrasi, keterlibatan akademisi di ruang publik memang tidak otomatis bertentangan dengan tugas keilmuan. Kampus dapat menjadi tempat mengembangkan pengetahuan, sementara ruang publik menjadi tempat pengetahuan itu diuji dalam kehidupan nyata.

Tentu, keterlibatan tersebut tetap perlu disertai argumentasi, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Anak muda bukan sekadar pewaris jabatan

Feri melihat anak muda sebagai salah satu kekuatan penting untuk mendorong perubahan. Ia menilai persoalan yang dikritiknya harus diselesaikan secara serius dan tidak dibiarkan berlarut-larut.

Pesan itu sekaligus menjadi tantangan bagi generasi muda: apakah mereka akan menerima keadaan sebagai sesuatu yang lumrah, atau justru membangun standar baru tentang bagaimana jabatan dan kekuasaan seharusnya dijalankan?

Perubahan tidak cukup dengan mengganti orang di kursi kekuasaan. Jika cara memilih, mengangkat, dan mengawasi pejabat tetap bermasalah, wajah baru hanya berpotensi mengulang kebiasaan lama.

Yang dibutuhkan ialah sistem yang membuat kompetensi memiliki nilai nyata, kritik tidak dianggap sebagai permusuhan, dan jabatan tidak berubah menjadi hadiah bagi mereka yang paling pandai mengambil hati atasan.

Sebab, republik tidak kekurangan orang yang ingin menduduki jabatan. Yang selalu dibutuhkan adalah orang yang bersedia memikul tanggung jawab setelah mendapatkannya.

Republik membutuhkan kecakapan, bukan sekadar kedekatan

Satire Feri mungkin terdengar kasar. Kata menjilat memang bukan istilah dalam buku administrasi pemerintahan. Tetapi, justru karena tajam, kata itu memancing pertanyaan yang sulit dihindari: bagaimana memastikan bahwa orang yang naik ke posisi penting memang layak berada di sana?

Jawabannya bukan dengan meremehkan pendidikan. Sebaliknya, pendidikan harus diperkuat dengan sistem rekrutmen yang transparan, pengawasan yang efektif, dan budaya organisasi yang menghargai perbedaan pendapat.

Kecerdasan tanpa integritas bisa berbahaya. Kedekatan tanpa kompetensi bisa merugikan. Sementara kekuasaan tanpa pengawasan berisiko membuat kritik dianggap gangguan.

Dan barangkali, itulah inti sindiran Feri: masalahnya bukan orang pintar tidak dibutuhkan. Masalahnya muncul ketika kepintaran tidak lagi menjadi pertimbangan yang menentukan.

Sebab, kalau untuk naik jabatan seseorang harus lebih dulu pandai menyenangkan penguasa daripada menyelesaikan pekerjaan, yang sedang dibangun bukan meritokrasi. Itu perlombaan mencari muka dengan hadiah berupa kursi kekuasaan. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru