PINRANG, Katasulsel.com – Di tengah upaya menjaga produksi pangan nasional, Kabupaten Pinrang mendadak berubah menjadi “titik krusial”. Bukan karena panen raya, melainkan karena serangan hama penggerek batang padi (PBP) yang mengancam ribuan hektare sawah.
Data di lapangan mencatat angka yang tidak kecil: 14.406 hektare terdampak. Namun dari jumlah itu, sekitar 5.000 hektare masih masuk kategori “zona harapan”—tanaman berumur 35 hingga 55 hari yang masih bisa diselamatkan jika ditangani cepat.
Melihat situasi ini, Kementerian Pertanian (Kementan) langsung bergerak cepat. Melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), bantuan pestisida digelontorkan sebagai langkah darurat untuk menahan laju kerusakan.
Sebanyak 1.900 liter pestisida telah disalurkan ke lima kecamatan dengan tingkat serangan tertinggi: Lanrisang, Suppa, Mattiro Sompe, Duampanua, dan Cempa.
“Penanganan dilakukan berbasis analisis teknis agar intervensi tepat sasaran,” ujar Direktur Pestisida Kementan, Nelson Metubun.
Langkah ini belum menjadi akhir. Pemerintah pusat bahkan menyiapkan tambahan 5.000 liter pestisida untuk menjangkau 5.000 hektare lahan potensial, lengkap dengan buffer stok sebagai langkah antisipasi jika serangan meluas.
Di sinilah pertarungan sebenarnya terjadi: antara kecepatan intervensi dan laju penyebaran hama.
Dirjen PSP Andi Nur Alam Syah menegaskan, jika tidak ditangani cepat, dampaknya bukan hanya pada petani, tetapi juga pada rantai pasok pangan.
“Dengan produktivitas rata-rata 6,71 ton GKP, kita berpotensi menyelamatkan sekitar 33.500 ton. Tanpa pengendalian, dampaknya langsung ke pasokan dan pendapatan petani,” jelasnya.
Angka itu memberi gambaran betapa besar “taruhannya”. Bukan sekadar panen yang gagal, tetapi juga stabilitas pangan dan ekonomi petani di daerah.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada pangan tidak hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga apa yang sudah ditanam.
“Produksi yang sudah ada harus dilindungi. Negara harus hadir saat petani menghadapi ancaman seperti ini,” tegasnya.
Kini, di hamparan sawah Pinrang, waktu menjadi faktor penentu. Setiap hari tanpa penanganan berarti potensi kerugian yang semakin besar.
Dan di tengah kondisi itu, satu hal menjadi jelas: menjaga padi tetap hidup sama pentingnya dengan menanamnya sejak awal.(*)
