Soppeng, katasulsel.com — Anggapan bahwa mencegah stunting harus dengan makanan mahal mulai diluruskan dalam kegiatan edukasi yang digelar mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin di Desa Tottong, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng.

Melalui Program Praktik Belajar Lapangan (PBL) III, mahasiswa Posko Desa Tottong mengajak masyarakat memahami bahwa pencegahan stunting justru bisa dimulai dari bahan pangan yang tersedia di sekitar rumah.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Desa Tottong pada Kamis (2/7/2026) itu diikuti oleh kader kesehatan, aparat desa, wanita usia subur (WUS), serta ibu balita. Sebanyak 16 peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi edukasi yang membahas pentingnya pemeriksaan kehamilan dan pemanfaatan pangan lokal bergizi.

Di hadapan peserta, Bidan Desa Tottong menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dibanding seusianya. Dampaknya bisa berpengaruh terhadap perkembangan otak, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Karena itu, pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan, bahkan sebelum seorang anak lahir.

Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin, konsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta pemenuhan gizi yang cukup selama masa kehamilan.

Namun bagian yang paling menarik perhatian warga adalah pembahasan tentang pangan lokal.

Mahasiswa dan tenaga kesehatan memperkenalkan berbagai bahan makanan yang mudah ditemukan di Desa Tottong namun memiliki nilai gizi tinggi, seperti ikan, telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, hingga umbi-umbian.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana: keluarga tidak perlu selalu membeli makanan mahal untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dan ibu hamil.

Dengan memanfaatkan potensi pangan yang ada di sekitar lingkungan, kebutuhan nutrisi keluarga tetap bisa terpenuhi secara baik.

Suasana edukasi berlangsung hidup. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan, terutama terkait pola makan ibu hamil, kebutuhan gizi balita, hingga langkah yang harus dilakukan untuk mencegah stunting sejak dini.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yaitu memanfaatkan aset yang sudah dimiliki desa sebagai kekuatan utama dalam menyelesaikan persoalan kesehatan.

Mahasiswa PBL III FKM Unhas berharap edukasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Tottong bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang dimulai dari keluarga.

Dengan dukungan pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, upaya membangun generasi yang sehat dan bebas stunting di Desa Tottong diharapkan semakin kuat.

Sebab, menurut para peserta, masa depan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh pendidikan yang baik, tetapi juga oleh gizi yang cukup sejak masih berada dalam kandungan. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Soppeng hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Soppeng terbaru di sini