Soppeng, Katasulsel.com — Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Namun yang tak kalah berbahaya, masih banyak masyarakat yang keliru memahami penyakit tersebut.

Kondisi itulah yang mendorong Mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin Posko Kelurahan Pajalesang menggelar program PEDULI TB (Pahami, Deteksi Dini, dan Lindungi Keluarga dari Tuberkulosis) di Masjid Nurul Ittihad Sumber Jati, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng.

Menariknya, edukasi yang digelar tidak menggunakan metode yang kaku. Selain penyampaian materi kesehatan, peserta diajak mengikuti permainan interaktif bertajuk “Mitos atau Fakta TB”, yang langsung menguji pemahaman masyarakat mengenai penyakit yang masih sering menimbulkan stigma tersebut.

Dalam permainan itu, peserta diminta membedakan informasi yang benar dan keliru seputar TBC. Mulai dari cara penularan, gejala, hingga proses pengobatan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Sejumlah peserta mengaku baru mengetahui bahwa TBC merupakan penyakit yang bisa disembuhkan jika penderita menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.

Program yang dilaksanakan pada Jumat (26/6/2026) itu diikuti oleh warga Kelurahan Pajalesang dengan pendampingan kader kesehatan setempat.

Kader kesehatan, Darmawati, yang menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya deteksi dini dan menghapus stigma terhadap penderita TBC.

“Tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan apabila masyarakat segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala dan menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas. Mari kita hilangkan stigma terhadap penderita TB dan memberikan dukungan agar mereka tetap semangat menjalani pengobatan,” ujarnya.

Sebelum materi diberikan, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan mereka. Setelah sesi edukasi dan permainan selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai bahan evaluasi.

Mahasiswa menyebut program PEDULI TB lahir dari hasil identifikasi masalah kesehatan yang menunjukkan masih rendahnya literasi masyarakat mengenai tuberkulosis.

Padahal, keterlambatan mengenali gejala dan minimnya pengetahuan tentang penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga memberdayakan kader kesehatan sebagai agen perubahan yang akan terus melanjutkan penyebaran informasi kesehatan setelah kegiatan berakhir.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan dampak yang lebih berkelanjutan dibanding sekadar penyuluhan sesaat.

Bagi warga Pajalesang, kegiatan itu bukan hanya menambah pengetahuan baru. Lebih dari itu, mereka diajak memahami bahwa TBC bukan penyakit yang harus ditakuti atau disembunyikan, melainkan penyakit yang harus dikenali lebih awal agar bisa segera diobati dan disembuhkan. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Soppeng hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Soppeng terbaru di sini