Sidikalang, katasulsel.com — Siang itu matahari Sidikalang terasa lebih panas dari biasanya.

Di sebuah ruang kepala sekolah yang sederhana, seorang pria berkemeja rapi terlihat gelisah. Sesekali ia melihat layar ponsel. Sesekali melirik jam dinding.

Hari itu Senin (26/5/2025) ketika jurnalis katasulsel.com, Sarifuddin Siregar berkunjung, waktu sudah menunjukkan beberapa menit menjelang pukul 15.00 WIB.

Itu bukan jam pulang sekolah.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Bukan pula jadwal rapat guru.

Hari itu adalah pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2025.

Hari penentuan nasib puluhan anak yang selama tiga tahun terakhir dibimbingnya.

Namanya Manotas Situmorang.

Ia kepala sekolah.

Namun siang itu, ia seperti seorang ayah yang sedang menunggu hasil operasi anaknya.

Degup jantungnya tidak beraturan.

Ada satu mimpi yang terus berputar di kepalanya.

Harus ada yang masuk ITB.

Harus ada yang masuk UGM.

Harus ada yang masuk UI.

“Bagi saya itu tantangan terbesar,” kenangnya.

Lalu telepon itu berbunyi.

Belum sampai 15 menit setelah pengumuman.

Dari seberang terdengar suara staf administrasi sekolah, Kudus Marpaung.

“Ada Pak… satu lolos ke ITB.”

Kalimat pendek itu seperti mengangkat beban berton-ton dari dadanya.

Ia tersenyum.

Mungkin juga menahan air mata.

Sebab hanya dia yang tahu betapa berat perjalanan menuju titik itu.

Sekolah yang dipimpinnya bukan sekolah favorit.

Bukan sekolah yang diperebutkan ribuan siswa setiap tahun.

Bukan pula tempat berkumpulnya anak-anak dengan nilai tertinggi.

Justru sebaliknya.

Menurut Manotas, banyak siswa yang datang ke sekolahnya setelah gagal masuk SMA negeri.

Sebagian berasal dari keluarga petani.

Sebagian lagi datang dari desa-desa terpencil di luar Sidikalang.

Mereka datang membawa mimpi.

Tetapi sering kali tanpa modal akademik yang kuat.

“Kalau diibaratkan, kami menerima yang tersisa setelah proses seleksi di tempat lain selesai,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar pahit.

Namun Manotas tidak pernah melihatnya sebagai kelemahan.

Justru di situlah tantangannya.

Ia punya filosofi sederhana.

Mengubah emas menjadi emas adalah pekerjaan biasa.

Tetapi mengubah besi menjadi emas, itulah tugas seorang pendidik.

Karena itu, ia tidak pernah mengukur siswa dari nilai awal mereka.

Yang ia lihat adalah seberapa jauh mereka bisa berubah.

Anak yang sering terlambat dibimbing menjadi disiplin.

Anak yang malas belajar diajak mencintai buku.

Anak yang tidak percaya diri diajari bermimpi lebih tinggi.

Perubahannya tidak instan.

Kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Kadang harus diulang berkali-kali.

Namun bagi Manotas, pendidikan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Ia percaya karakter dibangun sedikit demi sedikit.

Seperti menempa logam dalam bara api.

Karena itulah ia merasa berdosa jika anak didiknya tidak mengalami kemajuan.

Baginya, menerima gaji sebagai guru bukan sekadar menerima penghasilan.

Ada tanggung jawab moral yang ikut melekat.

“Gaji yang kami makan tidak akan menjadi berkah kalau anak-anak tidak menjadi lebih baik,” katanya.

Pernyataan itu bukan slogan.

Buktinya terlihat tahun ini.

Sebanyak 18 siswa berhasil lolos melalui jalur prestasi.

Sementara 96 siswa lainnya menembus perguruan tinggi negeri lewat jalur tes.

Ada yang diterima di Institut Teknologi Bandung.

Ada yang masuk Universitas Brawijaya.

Ada yang melanjutkan ke Universitas Sumatera Utara.

Ada pula yang diterima di Universitas Negeri Medan dan berbagai kampus negeri lainnya.

Bagi sekolah-sekolah elite, angka itu mungkin biasa.

Tetapi bagi sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga sederhana, angka itu adalah kemenangan besar.

Lebih besar dari sekadar statistik.

Sebab di balik setiap nama yang lolos, ada cerita tentang orang tua yang bekerja di ladang sejak pagi hingga petang.

Ada ibu yang rela kehujanan demi membayar uang sekolah anaknya.

Lanjut baca ya…………..

Ada keluarga yang harus menghitung setiap lembar rupiah agar pendidikan tetap berjalan.

Manotas memahami itu.

Karena itu ia selalu mengingatkan murid-muridnya untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan orang tua.

“Lihat tangan ibu kalian yang hitam karena matahari. Lihat ayah yang pulang membawa lumpur dari ladang. Mereka bekerja untuk masa depan kalian,” begitu pesan yang sering ia sampaikan.

Kini, salah satu mimpinya telah tercapai.

Anak didiknya berhasil menembus kampus-kampus terbaik Indonesia.

Dan ketika ditanya apa yang akan ia lakukan setelah itu, jawabannya justru mengejutkan.

Tidak ada euforia.

Tidak ada tuntutan penghargaan.

Tidak ada permintaan jabatan.

Ia hanya tersenyum.

“Kalau yayasan suatu hari mengganti saya, saya siap. Saya sudah bahagia. Mimpi memasukkan anak-anak ke kampus top sudah tercapai,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun mungkin di situlah letak kebesaran seorang Manotas Situmorang.

Ia tidak mengejar nama besar untuk dirinya.

Ia hanya ingin melihat anak-anak yang pernah dianggap biasa-biasa saja, mampu berdiri sejajar dengan yang terbaik.

Dan tahun ini, ia membuktikannya.

Dari sebuah sekolah yang sering menjadi pilihan terakhir, lahir mahasiswa-mahasiswa yang berhasil menembus kampus impian bangsa.

Sebuah bukti bahwa di tangan guru yang tepat, besi memang bisa berubah menjadi emas. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita