Sidrap, Katasulsel.com — Di warung kopi, grup WhatsApp, hingga ruang-ruang diskusi sepak bola, nama-nama seperti Portugal, Prancis, Argentina, dan Spanyol mendominasi prediksi juara Piala Dunia 2026.
Namun Ketua Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) Sulawesi Selatan, Edy Basri, justru mengambil pilihan yang berbeda.
Ia tidak memilih Cristiano Ronaldo.
Ia tidak memilih Kylian Mbappé.
Ia juga tidak terpikat oleh parade bintang Eropa lainnya.
Edy memilih Jepang.
“Saya menjagokan Jepang karena mereka adalah tim yang paling berkembang dalam 10 tahun terakhir,” kata Edy.
Menurutnya, banyak orang masih memandang Jepang sebagai tim pelengkap dari Asia. Padahal, realitas di lapangan sudah berubah jauh.
Samurai Blue kini bukan lagi tim yang datang ke Piala Dunia untuk mencari pengalaman.
Mereka datang untuk menantang.
Mereka datang untuk menang.
Dan yang paling penting, mereka datang tanpa rasa takut.
Keyakinan Edy semakin menguat setelah melihat penampilan Jepang saat menahan imbang Belanda 2-2 dalam laga pembuka Grup F.
Dua kali tertinggal.
Dua kali bangkit.
Dua kali mematahkan harapan lawan.
“Itu bukan keberuntungan. Itu kualitas,” ujarnya.
Bagi Edy, Jepang saat ini adalah gambaran sempurna bagaimana sebuah negara membangun sepak bola dengan perencanaan jangka panjang.
Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada sensasi.
Tidak ada ketergantungan pada satu superstar.
Yang ada hanyalah sistem.
Dari akademi usia muda, kompetisi domestik, hingga pengiriman pemain ke Eropa, semuanya berjalan dalam satu arah yang jelas.
Hasilnya kini terlihat.
Takefusa Kubo menjadi motor kreativitas.
Ayase Ueda menjadi predator di depan gawang.
Wataru Endo menjadi jenderal lapangan tengah.
Dan puluhan pemain lainnya tersebar di liga-liga elite Eropa.
“Mereka membangun sepak bola seperti membangun negara. Terukur, disiplin, dan konsisten,” kata Edy.
Yang menarik, Jepang juga menjadi salah satu tim dengan pertahanan terbaik menuju Piala Dunia 2026.
Di babak kualifikasi mereka mencetak puluhan gol dan hampir tidak memberi ruang bagi lawan untuk berkembang.
Namun bagi Edy, kekuatan terbesar Jepang justru tidak terlihat dalam statistik.
Kekuatan itu bernama mentalitas.
Mentalitas untuk terus berlari ketika tertinggal.
Mentalitas untuk tetap tenang ketika ditekan.
Mentalitas untuk tidak pernah merasa kalah sebelum peluit panjang berbunyi.
“Itu yang saya lihat saat mereka melawan Belanda. Jepang tidak panik. Mereka percaya diri menghadapi siapa pun,” ujarnya.
Edy bahkan menyebut Jepang sebagai “kuda samurai” yang bisa mengguncang peta kekuatan sepak bola dunia.
Jika dulu negara-negara Eropa sering menganggap Asia sebagai lawan yang mudah dikalahkan, kini situasinya mulai berubah.
Jepang telah menjadi simbol kebangkitan sepak bola Asia.
“Kalau ada tim yang bisa membuat kejutan terbesar di Piala Dunia 2026, saya yakin Jepang,” katanya.
Baginya, keberhasilan Jepang bukan hanya penting bagi negaranya sendiri.
Tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh Asia.
Karena setiap kemenangan Samurai Blue adalah bukti bahwa benua Asia mampu bersaing di panggung tertinggi dunia.
“Sebagai orang Asia, tentu saya ingin melihat negara Asia berbicara banyak di Piala Dunia. Dan Jepang adalah tim yang paling siap untuk mewujudkan itu,” tegas Edy Basri.
Di tengah hiruk-pikuk dukungan kepada para raksasa Eropa, Ketua KJI Sulsel itu memilih berdiri di belakang Samurai Blue.
Sebab menurutnya, sejarah besar sering lahir bukan dari tim yang paling dijagokan, melainkan dari tim yang paling siap bekerja keras. (*)
