MAKASSAR, KATASULSEL.COM — Suasana jelang Konferensi Provinsi (Konferprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan mulai menghangat. Peta dukungan perlahan terbentuk, dinamika internal makin terasa, namun satu pesan tegas mengemuka: jangan sampai perbedaan pilihan merusak persatuan organisasi.

Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Parepare, Abdul Razak Arsyad, SH, MH, mengingatkan seluruh keluarga besar PWI Sulsel agar menghadapi pesta demokrasi organisasi itu dengan kepala dingin, kedewasaan, dan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, Konferprov bukan sekadar pertarungan figur untuk merebut kursi ketua. Lebih dari itu, agenda lima tahunan tersebut menjadi titik penting dalam menentukan arah, marwah, dan masa depan organisasi wartawan terbesar di Sulawesi Selatan.

“PWI ini rumah besar kita bersama. Jangan sampai hanya karena perbedaan pilihan, organisasi justru retak. Demokrasi harus dijaga dengan etika, persaudaraan, dan rasa memiliki,” tegas Abdul Razak.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Pemegang KTA-B PWI itu menilai seluruh anggota memiliki beban moral menjaga independensi, profesionalisme, serta soliditas organisasi di tengah tantangan dunia pers yang semakin kompleks.

Ia juga mendorong agar kontestasi berjalan sehat, elegan, dan mengedepankan gagasan, bukan polarisasi.

“Gunakan hak suara dengan hati nurani. Pilih pemimpin yang bisa merangkul semua pihak, bukan memperlebar sekat di internal organisasi,” katanya.

Abdul Razak menegaskan, perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal lumrah dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar gesekan tidak berkembang menjadi konflik yang bisa memecah kekuatan PWI Sulsel.

Baginya, sosok ketua terpilih nantinya harus hadir sebagai pemersatu, mampu merajut kembali kekuatan internal, serta membawa PWI Sulsel lebih adaptif menghadapi disrupsi media digital.

Konferprov PWI Sulsel tahun ini pun diharapkan bukan hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga menjadi momentum memperkuat solidaritas, memperbaiki internal, dan mengembalikan marwah organisasi pers di Sulawesi Selatan.

Di tengah suhu politik organisasi yang mulai memanas, satu hal yang paling penting: PWI Sulsel tetap utuh, solid, dan tidak tercerai oleh perbedaan. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita