Sidrap, Katasulsel.com – Perubahan besar tengah berlangsung di sektor pertanian Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Dari sawah-sawah yang selama ini bergantung pada gas elpiji dan bahan bakar minyak, kini perlahan bergeser menuju sistem energi listrik melalui program Electrifying Agriculture yang digagas PT PLN (Persero) bersama pemerintah daerah.
Program ini tidak sekadar soal pergantian sumber energi, tetapi menjadi bagian dari transformasi struktur biaya produksi pertanian yang selama ini membebani petani. Melalui skema pompanisasi listrik, Sidrap didorong menuju sistem irigasi modern yang lebih efisien, stabil, dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara PLN dan Pemerintah Kabupaten Sidrap diarahkan untuk mengoptimalkan pasokan listrik di sektor pertanian, khususnya pada klaster sawah irigasi yang selama ini masih bergantung pada pompa berbasis LPG dan BBM.
Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Parepare, Muh. Akbar, menyebutkan bahwa program ini menargetkan sekitar 1.500 titik pompa listrik yang akan direalisasikan secara bertahap hingga akhir 2026.
Target tersebut diproyeksikan mencakup hingga 18.000 hektare lahan pertanian di Sidrap, menjadikannya salah satu proyek elektrifikasi pertanian terbesar di kawasan Sulawesi Selatan.
“Bahkan berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama Bupati, ada kemungkinan penambahan target pada tahap berikutnya,” ujarnya.
Hingga pertengahan 2026, realisasi program ini telah mencapai sekitar 20 persen atau setara 3.600 hektare lahan yang mulai beralih ke sistem pompa listrik.
Dari sisi teknis, satu titik pompanisasi dirancang mampu melayani sekitar tiga kelompok tani, dengan masing-masing kelompok menggunakan satu unit pompa dan satu meteran listrik tersendiri. Pola ini membuat distribusi energi lebih terukur dan efisien.
Dampak paling nyata justru terlihat pada struktur biaya petani di lapangan. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Duampanua Desa Baranti, Ruslan, menyebutkan bahwa peralihan dari LPG ke listrik memberikan penghematan signifikan.
Sebelumnya, petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp60.000 per hari hanya untuk bahan bakar pompa berbasis gas, dengan konsumsi 2–3 tabung LPG 3 kilogram per hari. Setelah beralih ke listrik, biaya turun drastis menjadi sekitar Rp4.400 per hari dengan konsumsi 4 kWh.
“Penghematan bisa lebih dari 80 persen. Selain itu, kerja di sawah juga lebih nyaman karena tidak ada lagi asap dan suara mesin yang bising,” ungkapnya.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada efisiensi ekonomi, tetapi juga pada aspek lingkungan. Sistem pompa listrik dinilai lebih bersih karena tidak menghasilkan emisi gas buang, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap subsidi energi seperti LPG dan solar.
Dari sisi kebijakan, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Sidrap, Ibrahim, menilai program ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Menurutnya, transformasi energi di sektor pertanian menjadi salah satu fondasi penting untuk mencapai target ambisius produksi gabah sebesar 1 juta ton di Sidrap.
Target tersebut hanya dapat dicapai jika didukung integrasi sistem irigasi modern, ketersediaan benih unggul, serta penguatan kelembagaan kelompok tani.
“Tanpa pengelolaan air yang baik dan teknologi pertanian yang tepat, target itu akan sulit dicapai,” tegasnya.
Secara analitis, program Electrifying Agriculture menunjukkan pergeseran paradigma pembangunan pertanian dari ketergantungan energi fosil menuju energi listrik yang lebih efisien dan berkelanjutan. Di tengah tekanan biaya produksi dan perubahan iklim, langkah ini menjadi salah satu bentuk adaptasi struktural sektor pertanian terhadap tantangan masa depan.
Jika konsisten dijalankan, Sidrap berpotensi menjadi model nasional pertanian berbasis energi listrik yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menekan biaya produksi secara signifikan dan memperkuat posisi sebagai salah satu lumbung pangan utama di Indonesia Timur. (*)
