Enrekang, Katasulsel.com – Ada beras yang ketika dimasak mengeluarkan aroma wangi. Ada pula beras yang membuat orang penasaran karena aroma itu justru sulit ditemukan ketika benihnya dibawa jauh dari tempat asalnya.

Namanya Pulu’ Mandoti.

Beras ketan lokal ini tumbuh di Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Penelitian Universitas Hasanuddin mencatat Pulu’ Mandoti dapat tumbuh baik dengan aroma khasnya di Desa Salukanan dan Desa Kendenan. Keunikan itu membuatnya dikenal sebagai beras lokal yang langka.

Pertanyaannya kemudian menarik: apa yang membuat Pulu’ Mandoti begitu lekat dengan tanah Enrekang?

Salah satu petunjuknya ada pada tempat tumbuhnya.

Desa Salukanan berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Penelitian mengenai Pulu’ Mandoti menyebut kondisi tanah di wilayah tersebut diduga memiliki unsur hara spesifik yang ikut memberi karakter pada rasa dan aroma tanaman.

Kata “diduga” penting di sini. Sebab, belum tepat jika langsung mengatakan bahwa hanya satu unsur tanah tertentu yang menjadi penyebab tunggal aroma Pulu’ Mandoti.

Yang sudah tercatat justru pengalaman para petani dan hasil penelitian: ketika benih Pulu’ Mandoti dibawa ke luar wilayah asalnya, karakter aromanya tidak selalu muncul seperti di Salukanan dan Kendenan. Bahkan, penelitian Unhas mencatat beberapa wilayah lain yang mencoba menanamnya mendapatkan hasil yang berbeda.

Jadi, benihnya bisa berpindah. Tetapi aromanya tidak otomatis ikut berpindah.

Di situlah Pulu’ Mandoti menjadi menarik.

Beras ini bukan hanya soal varietas. Ada lingkungan tempat tumbuh dan pengetahuan petani yang ikut menyertai proses budidayanya. Penelitian terbaru Unhas di Desa Kendenan mencatat petani masih menggunakan pengetahuan lokal sejak pemilihan benih, pengolahan lahan, penyemaian, penanaman, perawatan, hingga panen dan pascapanen.

Benih pun tidak dipilih sembarangan. Petani menyisihkan hasil panen terbaik untuk dijadikan benih pada musim berikutnya. Dalam praktik budidayanya, sejumlah pengetahuan lokal masih dipertahankan, termasuk penggunaan lahan terasering, pemilihan waktu tanam, hingga penggunaan alat tradisional saat panen.

Ada pula tradisi gotong royong atau sikombong yang masih ditemukan dalam pengelolaan Pulu’ Mandoti. Dari mengolah lahan, menanam, hingga memanen, pekerjaan pertanian tidak seluruhnya berdiri sebagai urusan individual. Ia tetap terhubung dengan pengetahuan dan kerja bersama masyarakat.

Karakter khas itu pula yang membuat Pulu’ Mandoti memiliki nilai ekonomi tinggi. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat beras ketan ini sebagai salah satu komoditas lokal aromatik Enrekang dan menyebutnya hanya dapat diperoleh pada wilayah tertentu di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.

Pulu’ Mandoti juga telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis. Status tersebut penting karena mengaitkan karakter suatu produk dengan faktor geografis dan reputasi wilayah asalnya. Penelitian Unhas mencatat sertifikasi tersebut sebagai bagian dari upaya pengembangan Pulu’ Mandoti sebagai produk unggulan lokal.

Maka, ketika sepiring nasi Pulu’ Mandoti mengeluarkan aroma khas dari dapur, ada sesuatu yang lebih panjang di belakangnya: benih yang dipilih, tanah pegunungan, cara bertani, pengetahuan yang diwariskan, dan dua desa di Baraka yang menjaga keberadaannya.

Benih bisa dibawa pergi.

Tetapi, apakah wanginya juga akan ikut pulang?

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Enrekang hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Enrekang terbaru di sini