Makassar, katasulsel.com — Kalau ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul setiap musim kepulangan jemaah haji asal Sulawesi Selatan, itu bukan hanya pelukan keluarga di bandara atau air mata haru yang jatuh tanpa bisa ditahan.
Ada satu “ritual kecil” yang diam-diam selalu mencuri perhatian: perubahan penampilan sebelum pulang benar-benar ke rumah.
Di Asrama Haji Sudiang, tepatnya di Aula Arafah, fenomena itu kini punya “ruang resmi” sendiri yang disebut makeup corner. Sebuah sudut sederhana, tapi justru jadi titik penting sebelum jemaah benar-benar kembali ke kehidupan kampung halaman.
Di sana, suasana tak lagi seperti ruang transit biasa. Ada cermin, meja rias, peralatan kosmetik, hingga tatanan sederhana yang disiapkan panitia. Dan di situlah para jemaah perempuan—yang baru saja menuntaskan perjalanan panjang dari Makkah dan Madinah—pelan-pelan “mengatur ulang diri”.
Bukan untuk bergaya berlebihan. Tapi untuk satu momen yang bagi banyak orang terasa penting: bertemu keluarga setelah pulang dari Tanah Suci.
Dari kebutuhan kecil, jadi kebiasaan yang disiapkan
Ketua PPIH Debarkasi Makassar, Ikbal Ismail, menyebut makeup corner ini bukan program yang dirancang dari awal. Ia lahir dari kebiasaan yang terus berulang setiap tahun.
Bukan karena tren, tapi karena kebutuhan nyata di lapangan.
“Ini kebutuhan jemaah. Beberapa tahun terakhir, jemaah memang sudah biasa makeup sendiri, jadi teman-teman asrama haji berinisiatif menyiapkan tempatnya,” katanya.
Sederhana saja logikanya: setelah perjalanan panjang, tubuh lelah, pakaian sederhana, lalu ada keinginan untuk tampil lebih rapi saat turun dan bertemu keluarga. Maka ruang kecil itu hadir sebagai jawaban.
Dan ternyata, bukan sedikit yang memanfaatkannya.
Bling-bling, Mispa, dan identitas yang tidak hilang
Kalau Anda pernah melihat kepulangan jemaah haji Sulsel, ada satu ciri yang cukup khas: pakaian Mispa warna cerah, penuh payet, kadang berkilau, ditambah aksesori yang tidak sedikit.
Bagi sebagian orang luar, ini mungkin terlihat “ramai”. Tapi bagi banyak jemaah, itu bukan sekadar pakaian. Itu bagian dari ekspresi kebahagiaan pulang dari ibadah besar.
Di sinilah makeup corner masuk. Ia bukan mengubah tradisi itu, tapi menyempurnakan momen transisinya.
Dari ihram, dari pakaian sederhana, dari perjalanan spiritual—menuju momen sosial: bertemu keluarga, tetangga, dan kampung halaman.
Ada yang natural, ada yang tetap “full look”
Di sudut lain, Ria—salah satu penata rias di lokasi—menceritakan sisi yang lebih ringan tapi menarik. Di makeup corner ini, tidak ada satu standar kecantikan yang dipaksakan.
“Sering kami bantu makeup saja. Pakaian mereka sendiri. Kadang kami bantu pasang hijab atau mispa,” katanya santai.
Yang menarik, permintaan jemaah sangat beragam. Ada yang ingin tampil natural, ada yang tetap ingin “niat lengkap” untuk momen pulang.
“Ada yang minta natural, ada juga yang mau lebih rapi. Kita sesuaikan saja dengan usia dan wajahnya,” tambahnya.
Dan satu hal yang cukup menghangatkan: bukan hanya perempuan muda yang datang ke sana.
“Bahkan nenek-nenek juga ada,” katanya sambil tersenyum.
Di titik ini, makeup corner bukan lagi soal kosmetik. Tapi soal rasa ingin tampil pantas di depan keluarga yang sudah lama ditinggalkan.
Tradisi yang tidak tertulis, tapi terus hidup
Fenomena ini ternyata bukan hal baru. Di Sulawesi Selatan, kebiasaan jemaah haji “tampil maksimal” saat pulang sudah seperti tradisi tak tertulis.
Ada yang sejak dari Tanah Suci sudah menyiapkan pakaian khusus. Bahkan ada yang sudah ganti baju di perjalanan, di pesawat, atau saat transit.
“Kalau tidak sempat di sini, mereka sudah siap dari sebelumnya,” kata Ikbal.
Namun di balik semua itu, ada satu pesan yang tetap dijaga: tetap sederhana dan tetap menjaga adab.
Pihak panitia tidak melarang penggunaan pakaian atau riasan tersebut, selama tetap memperhatikan batasan dan menutup aurat dengan baik.
“Kami tidak melarang, tapi tetap diingatkan soal ketentuan berpakaian,” ujarnya.
Sudiang, bukan sekadar tempat transit
Kalau dilihat sekilas, Asrama Haji Sudiang hanyalah titik akhir perjalanan sebelum jemaah kembali ke kabupaten masing-masing.
Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, tempat ini seperti ruang transisi kehidupan.
Dari ibadah ke sosial.
Dari kesederhanaan ke pertemuan keluarga.
Dari perjalanan panjang ke kehidupan sehari-hari.
Dan di tengah semua itu, makeup corner berdiri kecil—tidak mewah, tidak besar—tapi punya peran yang diam-diam penting: membantu orang-orang yang baru pulang dari Tanah Suci untuk kembali menjadi diri mereka di hadapan orang yang mereka cintai.
Karena bagi banyak jemaah, pulang bukan hanya soal tiba. Tapi juga soal “siap dilihat” oleh keluarga yang sudah lama menunggu di rumah. (*)
