Jakarta, katasulsel.com — Di dunia Grand Prix, nama besar lahir dari lintasan dan statistik. Italia pernah melahirkan Valentino Rossi. Spanyol punya Marc Marquez. Keduanya tumbuh menjadi ikon MotoGP. Kini, dari Gunung Kidul, Indonesia mulai punya nama muda yang perlahan ikut masuk percakapan itu: Veda Ega Pratama.
Memang, membandingkan Veda dengan Rossi dan Marquez masih terlalu dini. Kelasnya berbeda, zamannya berbeda, tekanannya pun berbeda. Tapi statistik awal karier membuat nama Veda layak dilirik.
Pada debut Grand Prix kelas ringan 125cc tahun 1996, Valentino Rossi mengumpulkan 46 poin dalam lima seri awal—tanpa podium.
Marc Marquez saat memulai karier Grand Prix pada 2008 bahkan lebih lambat. Dalam lima balapan awal, rider Spanyol itu baru mengoleksi 10 poin.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Sementara Veda Ega Pratama, di musim debut Moto3 2026 bersama Honda Team Asia, langsung mencetak 50 poin dan satu podium.
Artinya, secara statistik start awal, Veda melampaui Rossi dan Marquez.
Bukan soal siapa lebih hebat.
Tapi soal seberapa besar sinyal yang sedang ia kirim ke paddock dunia.
Rossi dikenal sebagai legenda dengan gaya agresif, kecerdasan membaca balapan, dan karisma yang mengubah MotoGP jadi tontonan global.
Marquez tumbuh sebagai pembalap ekstrem—berani, tajam, dan brutal di tikungan, hingga menjelma juara dunia bermental baja.
Lalu Veda?
Ia mulai dikenal lewat kombinasi yang berbeda: tenang, konsisten, dan cepat beradaptasi.
Saat Rossi dan Marquez butuh waktu membangun nama, Veda langsung mencuri perhatian sejak awal musim.
Thailand menjadi pembuka. Finis kelima.
Brasil menjadi sejarah. Finis ketiga dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium di Grand Prix Moto3.
Setelah itu ia tidak redup.
Finis keenam di Spanyol. Lalu kembali menembus barisan depan dengan posisi keempat di Le Mans.
Di situlah Veda mulai memperlihatkan kualitas yang membuatnya menonjol dari sekadar rookie biasa.
Ia bukan pembalap yang hanya mengejutkan satu seri, lalu hilang.
Ia konsisten.
Tentu, Rossi dan Marquez sudah membuktikan diri sebagai juara dunia, ikon global, bahkan legenda lintasan.
Veda belum sampai ke sana.
………….
Tapi untuk ukuran start karier, pembalap muda dari Gunung Kidul ini sedang membuka jalan dengan cara yang tidak biasa.
Rossi membangun warisan. Marquez membangun dominasi. Veda Ega baru memulai—tapi start-nya membuat dunia mulai menoleh. (ed)
