Melawan Stigma dengan Prestasi

Nur Kana’ah juga menyampaikan sejumlah capaian pemerintah daerah dalam forum tersebut.

Salah satunya pertumbuhan ekonomi Sidrap yang disebut meningkat dari 4,2 persen menjadi 7,7 persen.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengubah citra sekaligus melawan stigma negatif terhadap Sidrap.

Pemerintah bersama Forkopimda, OPD dan masyarakat, kata dia, terus bergerak melakukan pembenahan.

Perhatian juga diarahkan kepada sektor yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

Pertanian, peternakan dan perikanan menjadi sektor strategis karena sebagian besar masyarakat Sidrap menggantungkan aktivitas ekonominya pada bidang tersebut.

Produktivitas pertanian pun disebut meningkat, dari sekitar 6 ton menjadi 11–12 ton gabah per hektare di sejumlah lokasi.

Dukungan pemerintah pusat juga mulai mengalir melalui bantuan alat dan mesin pertanian modern serta program pertanian modern.

Bahkan, sekitar 10 hektare lahan di Sidrap dijadikan sampel pertanian modern nasional.

Pulang Membawa Kritik, Bukan Sekadar Cerita

Forum orang Sidrap akhirnya menghadirkan pesan yang lebih besar.

Bahwa orang Sidrap yang berada di luar daerah bukan berarti kehilangan hubungan dengan kampung halamannya.

Mereka tetap mengikuti perkembangan.

Mereka melihat perubahan.

Dan ketika ada yang dianggap perlu dibenahi, mereka tidak segan bersuara.

Bedanya, mereka tidak hanya membawa kritik.

Mereka juga membawa pengalaman, pengetahuan, jaringan dan gagasan.

Sebab, untuk membangun Sidrap, mungkin yang dibutuhkan bukan hanya orang yang selalu mengatakan “sudah bagus”.

Tetapi juga mereka yang berani mengatakan, “masih ada yang harus diperbaiki,” lalu ikut menawarkan bagaimana cara memperbaikinya. (*)