Sidrap, katasulsel.com – Saat banyak daerah masih berjuang meningkatkan produktivitas sawah, Pertanian Sidrap justru menyiapkan lompatan yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi.

Angkanya tidak main-main.

Dari hamparan penangkaran benih seluas 175 hektare yang dipanen Jumat (31/7/2026), Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kini membidik pengembangan hingga 20 ribu hektare melalui program IP 300 dan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).

Target tersebut diungkap langsung Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, saat menghadiri panen perdana penangkaran padi Cakra Buana di Kelurahan Majelling Wattang, Kecamatan Maritengngae.

Jika terealisasi, luas areal yang akan digarap mencapai lebih dari 100 kali lipat dibanding lahan penangkaran yang dipanen hari ini.

“Ini adalah persiapan benih andalan untuk Sidrap. Yang kita tanam seluas 175 hektare. Ini persiapan benih IP 300 dengan umur 75 hari,” kata Syaharuddin.

Namun yang paling menarik bukan hanya luas lahannya.

Melainkan hasil yang mulai terlihat di lapangan.

Menurut Syaharuddin, produktivitas penangkaran benih mengalami lonjakan cukup signifikan.

Jika sebelumnya petani hanya mampu menghasilkan sekitar dua karung per titik, kini hasilnya mencapai enam karung.

Artinya, terjadi peningkatan hingga tiga kali lipat.

“Dulu kita hanya dapat dua karung per titik, sekarang Alhamdulillah sudah enam karung,” ungkapnya.

Harga gabah pun ikut bergerak naik.

Dari sebelumnya sekitar Rp7.200 per kilogram, kini mencapai Rp7.500 per kilogram.

Dua indikator itu menjadi sinyal positif bagi petani karena berdampak langsung pada potensi pendapatan mereka.

Panen perdana tersebut sejatinya bukan akhir dari proses.

Justru menjadi awal dari agenda yang lebih besar.

Benih hasil penangkaran Cakra Buana akan digunakan untuk mendukung musim tanam September melalui program PM-AAS yang selama ini menjadi salah satu andalan Pertanian Sidrap.

Program tersebut dirancang untuk mendorong peningkatan indeks pertanaman menjadi tiga kali tanam dalam setahun atau yang dikenal dengan IP 300.

Jika target 10 ribu hingga 20 ribu hektare berhasil dicapai, produksi pangan Sidrap berpotensi melonjak signifikan dalam beberapa musim tanam ke depan.

Bagi daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, capaian tersebut tentu bukan sekadar angka.

Melainkan strategi untuk mempertahankan dominasi Sidrap sebagai daerah penghasil beras utama di Sulawesi Selatan.

Syaharuddin menilai keberhasilan panen perdana ini menjadi bukti bahwa penggunaan benih unggul dan pengelolaan pertanian yang terencana mampu menghasilkan perubahan nyata.

“Ini bukti bahwa kalau kita serius, kalau kita fokus, hasil akan kelihatan. Benih yang bagus, hasil yang bagus, petani yang sejahtera,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan, Balai Penyuluhan Pertanian, serta para penyuluh untuk terus mengawal proses penangkaran hingga benih tersalurkan kepada petani.

Di tengah berbagai tantangan sektor pangan nasional, langkah yang ditempuh Pertanian Sidrap kali ini memberi sinyal kuat bahwa Bumi Nene Mallomo belum kehilangan reputasinya.

Bahkan, jika target tersebut tercapai, Sidrap berpotensi kembali menjadi salah satu daerah yang paling diperhitungkan dalam peta ketahanan pangan Indonesia. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini