Enrekang, Katasulsel.com — Salah satu petani, Muhajir, menjadi saksi paling nyata dari transformasi ini. Ia mengelola tujuh kebun bawang sekaligus, yang sebelumnya menguras biaya operasional hingga Rp35 juta setiap musim tanam. Kini, dengan sistem listrik berdaya 92.400 VA, biaya itu turun drastis menjadi sekitar Rp14 juta.
Enrekang, Katasulsel.com — Perubahan besar di sektor pertanian tidak selalu datang dari alat berat atau teknologi mahal. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, revolusi itu justru lahir dari hal yang sederhana: listrik yang mengalir ke kebun bawang.
Program Elektrifikasi Agrikultur (EA) PLN perlahan mengubah wajah pertanian bawang merah di daerah dataran tinggi ini. Dari yang dulu bergantung pada solar dan biaya operasional tinggi, kini petani mulai beralih ke sistem berbasis listrik yang lebih efisien, stabil, dan murah.
Hasilnya bukan sekadar penghematan—tetapi perubahan cara kerja.
Salah satu petani, Muhajir, menjadi saksi paling nyata dari transformasi ini. Ia mengelola tujuh kebun bawang sekaligus, yang sebelumnya menguras biaya operasional hingga Rp35 juta setiap musim tanam. Kini, dengan sistem listrik berdaya 92.400 VA, biaya itu turun drastis menjadi sekitar Rp14 juta.
Angka itu bukan sekadar hemat. Itu perubahan struktur ekonomi kecil di tingkat petani.
“Sekarang tidak lagi pusing soal solar. Tidak ada lagi antre BBM atau takut kelangkaan. Semua bisa diatur lewat listrik, bahkan tokennya cukup dari HP,” kata Muhajir.
Di lapangan, perubahan itu terlihat jelas. Pompa air yang dulu meraung dengan mesin diesel kini bekerja lebih stabil dengan tenaga listrik. Lampu-lampu perangkap hama menyala lebih konsisten, membantu menjaga kualitas tanaman bawang di malam hari.
Bagi petani, ini bukan hanya soal teknologi. Ini soal kepastian.
Dampaknya langsung terasa pada produktivitas. Dengan biaya yang lebih rendah dan sistem yang lebih stabil, pengelolaan lahan menjadi lebih terukur. Waktu kerja lebih efisien, dan risiko operasional berkurang drastis.
Penyuluh Pertanian Lapangan Kelurahan Tanete, Irawaty Zainuddin, menyebut perubahan ini sebagai lompatan penting dalam modernisasi pertanian lokal.
“Petani sekarang mulai masuk ke fase baru. Dari yang manual dan tergantung BBM, ke sistem listrik yang lebih modern. Efeknya bukan hanya hemat, tapi juga meningkatkan kualitas produksi,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Pemerintah Kabupaten Enrekang melihat elektrifikasi pertanian ini sebagai pintu masuk menuju pertanian berbasis teknologi. Bupati Enrekang, Muh Yusuf Ritangnga, menilai listrik kini bukan lagi sekadar kebutuhan rumah tangga, tetapi infrastruktur produksi pangan.
“Kalau dulu listrik identik dengan rumah, sekarang listrik adalah alat produksi. Ini penting untuk ketahanan pangan dan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari DPRD Enrekang. Ketua DPRD Ikrar Eran Batu menyebut program ini sebagai contoh konkret kolaborasi BUMN dan petani dalam mendorong efisiensi ekonomi daerah.
Namun di balik angka hemat 60 persen itu, ada cerita yang lebih besar: perubahan pola pikir.
Petani bawang Enrekang kini tidak lagi sekadar mengandalkan tenaga dan cuaca, tetapi mulai masuk ke era pertanian berbasis energi, data, dan efisiensi.
Dan di tengah pergeseran itu, satu hal menjadi jelas—masa depan pertanian tidak lagi hanya ditentukan oleh tanah dan benih, tetapi juga oleh bagaimana listrik mengalir ke kebun.(tip)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
