Makassar, katasulsel.com — Musim yang berjalan seperti roller coaster bagi PSM Makassar akhirnya memunculkan keputusan ekstrem. Dari ruang ganti yang biasanya penuh optimisme, kini keluar sinyal keras: perombakan besar-besaran, dengan hanya sekitar 25 persen pemain yang dipastikan bertahan untuk musim depan.

Pelatih interim Ahmad Amiruddin tidak lagi berbicara dalam nada diplomatis ketika musim berakhir. Usai laga penutup melawan Madura United, ia langsung menyusun peta jalan yang terdengar seperti reset total: evaluasi individu, laporan ke manajemen, lalu seleksi ketat yang akan menentukan siapa yang masih layak mengenakan seragam merah khas Juku Eja.

β€œYang bisa dipertahankan 25%,” ucapnya singkat, tapi cukup untuk menggambarkan skala perubahan yang akan terjadi di tubuh tim.

Pernyataan itu bukan sekadar reaksi emosional atas hasil satu musim, melainkan akumulasi dari performa yang naik-turun hingga nyaris menyeret PSM ke jurang degradasi. Klub kebanggaan Sulawesi Selatan itu memang menutup musim di posisi 15 klasemen Super League 2025/2026, hanya berjarak satu strip dari zona merah dengan 34 poin.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Ironisnya, penyelamat PSM bukan performa gemilang, melainkan perhitungan head to head yang lebih baik dibanding Persis Solo yang akhirnya harus turun kasta. Di balik selamat tipis itu, tersimpan catatan yang jauh dari kata meyakinkan.

Stadion Stadion Gelora BJ Habibie yang biasanya menjadi benteng justru berubah menjadi titik rapuh. Dalam 17 laga kandang, PSM hanya mampu meraih empat kemenangan, enam imbang, dan tujuh kekalahan. Produktivitas pun stagnan, dengan jumlah gol dan kebobolan yang sama: 21 berbanding 21, seolah tim kehilangan identitas antara menyerang dan bertahan.

Amiruddin menyebut musim ini sebagai salah satu titik terendah dalam perjalanan tim. Tidak ada kalimat pembelaan panjang, hanya pengakuan bahwa sesuatu harus dibongkar jika ingin kembali bersaing.

…………

β€œYa, mungkin ini musim terburuknya kami untuk kompetisi Liga 1,” katanya.

Dari situ, arah kebijakan menjadi tegas: PSM tidak hanya butuh perbaikan, tetapi rekonstruksi. Amiruddin berharap manajemen bergerak cepat di bursa transfer, membentuk ulang fondasi tim yang sempat kehilangan stabilitas sepanjang musim.

Harapannya sederhana namun berat: mengembalikan PSM ke posisi yang selama ini menjadi identitasnya, bukan sekadar bertahan di tepi jurang, tetapi kembali menjadi penantang di papan atas. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.