Di lapangan nanti, BPS Barru menurunkan 187 petugas. Terdiri dari 23 pengawas dan 164 petugas lapangan. Mereka sudah dibekali pelatihan teknis, bahkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.
Pendataan akan dilakukan secara door to door, menyasar seluruh wilayah Barru. Dimulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Artinya, selama lebih dari dua bulan, para petugas akan menjadi “wajah negara” yang mengetuk satu per satu pintu usaha, dari skala kecil hingga menengah.
Bupati Barru juga mengajak seluruh elemen, mulai dari OPD, camat, lurah, kepala desa hingga pelaku usaha, untuk tidak bersikap pasif.
Menurutnya, sensus hanya akan berhasil jika masyarakat ikut terbuka dan jujur dalam memberikan data.
Ia juga menegaskan satu hal yang sering menjadi kekhawatiran warga: kerahasiaan data dijamin undang-undang.
“Dengan semangat Siri’ na Pacce, mari bersama menyukseskan Sensus Ekonomi 2026,” ucapnya.
Nilai lokal itu disisipkan bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin sensus tidak dipandang sebagai proyek statistik semata, tetapi sebagai gerakan kolektif untuk membangun Barru dengan cara yang lebih terukur.
Di balik pencanangan ini, tersirat satu pesan besar: pembangunan tidak lagi bisa berjalan dengan asumsi.
Ia harus berdiri di atas data.
Dan di Barru, data itu kini sedang dikumpulkan dari rumah ke rumah, dari usaha ke usaha, dari angka kecil yang nantinya akan membentuk gambaran besar ekonomi daerah. (*)
