Oleh: Sarifuddin Siregar
Siang itu matahari Sidikalang tidak terlalu garang.
Angin tipis turun dari perbukitan Dairi. Angkot berhenti pelan di depan gerbang SMAN 2 Sidikalang, Jalan Air Bersih. Dari dalamnya turun seorang ibu berkaos merah. Wajahnya lelah. Tapi matanya menyimpan satu tujuan.
Ia datang tidak sendiri.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Dua putrinya ikut di belakang. Tubuh semampai. Wajah masih belia. Langkahnya pelan. Ada gugup. Ada harap.
Mereka datang untuk satu urusan penting: mendaftar sekolah.
Bagi banyak orang, ini mungkin perkara biasa. Anak datang ke sekolah. Mengurus administrasi. Mengisi formulir. Lalu pulang.
Tapi siang itu, di gerbang sekolah negeri di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, ada kisah kecil yang diam-diam lebih besar dari sekadar urusan sepatu.
Ibu ituβsebut saja Meiβbaru tiba dari Desa Kuta Tengah, Kecamatan Siempat Nempu Hulu. Jarak dari kampungnya tidak dekat. Ongkos datang pun bukan perkara ringan.
Ia menghampiri petugas keamanan sekolah.
βPak, mau daftar… di mana ruangannya?β
Satpam, Jonsari Tumanggor, menunjukkan arah.
βDi sana, Bu. Tapi masuk harus rapi. Harus pakai sepatu.β
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Mei, itu seperti kabar yang membuat langkahnya tertahan.
Putrinya datang tanpa sepatu hitam.
Yang dipakai hanya alas kaki biasa.
Ia tampak bingung.
Pulang berarti biaya lagi. Datang lagi berarti waktu terbuang. Sementara proses pendaftaran belum tentu menunggu.
Ia sempat bertanya pelan: masih bukakah pendaftaran satu jam lagi?
Mungkin ia sedang menghitung jarak. Menghitung ongkos. Menghitung kemungkinan.
Kadang orang miskin memang harus menghitung lebih banyak hal daripada orang kaya.
Di sela kebingungan itu, seorang warga yang melihat kejadian tersebut memberi saran sederhana.
βCoba tanya pelajar yang duduk di sana. Mana tahu mau bantu.β
Di seberang sekolah, dekat parkiran sepeda motor, dua pelajar lelaki sedang duduk menunggu waktu ujian.
Mereka tidak sedang membuat konten.
Tidak sedang mencari pujian.
Tidak sedang menunggu kamera.
Hanya duduk.
Berteduh.
Biasa saja.
Nama mereka: Rehat Sianturi dan Rio Pranata Rajagukguk.
Keduanya siswa SMAN 2 Sidikalang.
Mei lalu menyeberang bersama dua putrinya.
Barangkali dengan rasa sungkan.
Barangkali dengan harapan tipis.
Mungkin juga dengan kalimat yang tidak enak diucapkan:
Bolehkah pinjam sepatu?
Tak sampai semenit.
Dua pasang sepatu hitam berpindah kaki.
Dari siswa SMA kepada dua siswi SMP yang hendak mendaftar sekolah.
Sesederhana itu.
Tidak ada rapat.
Tidak ada skenario.
Tidak ada hubungan keluarga.
Bahkan mereka sebelumnya tidak saling kenal.
Hanya ada satu hal yang bekerja cepat: rasa iba.
βKasihan. Kampungnya jauh,β kata Rehat dan Rio saat dimintai alasan mengapa rela meminjamkan sepatu mereka.
Mereka kemudian tetap berada di luar gedung.
Tanpa sepatu.
Menunggu giliran ujian.
Barangkali lantai terasa panas.
Barangkali tanah sedikit kasar.
Tapi dua anak itu tampaknya tidak sedang memikirkan kenyamanan kaki mereka.
Mereka sedang memikirkan agar dua anak lain tidak pulang membawa kecewa.
Di tengah berita tentang kekerasan, egoisme, dan menurunnya empati yang kerap memenuhi ruang publik, kisah ini memang tampak kecil.
Hanya sepatu.
Bukan uang miliaran.
Bukan bantuan besar.
Bukan proyek.
Bukan penghargaan.
Tapi justru di situlah nilainya.
Peradaban sering kali tidak runtuh oleh kurangnya gedung megah.
Ia runtuh saat manusia kehilangan kepedulian.
Dan kadang, ia justru bertahan karena tindakan kecil yang dilakukan tanpa hitung-hitungan.
βKita harus peduli kepada sesama. Kalau bisa ditolong, ya ditolong,β kata Rehat.
Kalimat yang pendek.
Tapi sering lebih berat dipraktikkan daripada pidato panjang.
Rio sepakat.
Bagi mereka, sekolah, agama, dan kehidupan sosial bukan sekadar teori di buku.
Harus ada wujudnya.
Harus terasa manfaatnya.
Harus hidup.
Keduanya ternyata juga punya mimpi.
Mereka sedang menunggu ujian siang itu.
Selepas lulus, Rehat dan Rio ingin melanjutkan kuliah ke Pulau Jawa.
Bidikannya tidak kecil.
Institut Teknologi Bandung (ITB).
Karena itu mereka memperkuat matematika, fisika, dan Bahasa Inggris.
Mereka melihat kakak kelas lebih dulu menembus kampus-kampus negeri favorit.
Dan itu menjadi bara kecil yang menyalakan tekad.
βAbang kelas kami sudah banyak masuk PTN favorit di Jawa. Jadi termotivasi,β kata Rio.
Anak-anak kampung memang sering punya cara sunyi untuk membangun masa depan.
Belajar diam-diam.
Bermimpi pelan-pelan.
Kadang sambil meminjamkan sepatu.
Mungkin besok kisah ini dilupakan.
Tak masuk headline nasional.
Tak viral.
Tak menjadi perdebatan politik.
Tapi bagi dua gadis yang siang itu berhasil masuk ke sekolah untuk mendaftar, sepasang sepatu hitam itu mungkin akan mereka ingat lama.
Karena tidak semua pertolongan datang dalam bentuk besar.
Kadang, masa depan seseorang bisa tetap berjalan… hanya karena ada orang lain yang rela bertelanjang kaki sejenak. (*)
