Makassar, katasulsel.com β Namanya mungkin belum setenar selebgram atau konten kreator yang setiap hari muncul di beranda media sosial.
Namun pekan ini, nama Adzkiyah Raihanah Putri mulai banyak dibicarakan di kalangan pegiat literasi Kota Makassar.
Siswi kelas XI.B SMAIT Darul Fikri Makassar (DAFI School Makassar) itu sukses menembus tiga besar Pemilihan Duta Baca Pelajar Kota Makassar 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan Kota Makassar bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Di tengah era ketika membaca sering kalah populer dibanding scrolling media sosial, pencapaian Adzkiyah menjadi cerita menarik.
Ia bukan datang dari sekolah favorit yang setiap hari menghiasi pemberitaan nasional.
Ia juga bukan publik figur.
Adzkiyah hanyalah satu dari ribuan pelajar Makassar yang memilih jalan berbeda: berteman dengan buku.
Dan pilihan itu membawanya ke podium.
Perjalanan menuju tiga besar tidak mudah.
Peserta harus melewati seleksi administrasi, ujian tertulis, wawancara, penulisan esai, hingga presentasi gagasan literasi.
Setiap tahap menyaring peserta terbaik.
Setiap tahap menguji kemampuan yang berbeda.
Bukan hanya soal seberapa banyak buku yang dibaca.
Tetapi juga bagaimana peserta berpikir, menyampaikan ide, dan menawarkan solusi bagi budaya literasi di kalangan pelajar.
Di sinilah Adzkiyah mencuri perhatian.
Ia tampil tenang.
Tidak banyak gaya.
Tetapi memiliki kemampuan menyampaikan gagasan dengan runtut dan meyakinkan.
Kemampuan yang semakin langka di tengah generasi yang lebih akrab dengan video pendek berdurasi satu menit.
Bagi Kota Makassar, prestasi ini memiliki makna tersendiri.
Sebab beberapa tahun terakhir, pemerintah kota terus berupaya membangun budaya membaca di kalangan pelajar melalui berbagai program literasi dan pengembangan perpustakaan.
Namun pertanyaan yang sering muncul tetap sama:
Apakah masih ada anak muda yang benar-benar gemar membaca?
Jawaban itu kini bernama Adzkiyah.
Guru pendampingnya, Nurfaizah, melihat keberhasilan tersebut bukan semata-mata karena kecerdasan.
Melainkan karena ketekunan.
Menurutnya, selama proses persiapan, Adzkiyah dikenal sebagai sosok yang tidak cepat puas dan selalu berusaha memperbaiki diri.
“Dia menikmati prosesnya. Membaca, berdiskusi, menerima masukan, lalu belajar lagi. Itu yang membuatnya berkembang,” katanya.
Kepala SMAIT Darul Fikri Makassar, Ustaz Syahrul Ramadhana, juga menyebut capaian tersebut sebagai bukti bahwa budaya literasi masih hidup di kalangan pelajar Makassar.
Menurutnya, membaca bukan sekadar kegiatan akademik.
Membaca adalah cara membangun cara berpikir.
Karena dari membaca lahir pemahaman.
Dari pemahaman lahir gagasan.
Dan dari gagasan lahir perubahan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, sosok seperti Adzkiyah menjadi pengingat bahwa buku belum kehilangan tempatnya.
Masih ada pelajar yang memilih mengisi waktunya dengan membaca.
Masih ada yang percaya bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari layar ponsel.
Dan masih ada yang membuktikan bahwa literasi bisa membawa seseorang berdiri di panggung prestasi.
Kini, nama Adzkiyah mungkin baru dikenal di kalangan tertentu.
Namun bagi Makassar, kemunculan pelajar seperti dirinya adalah kabar baik.
Sebab sebuah kota tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pandai berbicara.
Kota juga membutuhkan generasi yang gemar membaca, mampu berpikir kritis, dan berani menyampaikan gagasannya kepada publik.
Dan pekan ini, Makassar menemukan salah satunya. (*)
Penulis: Fajar Ahmad Wahyuddin
