SIDRAP – Selama ini orang mungkin melihat sampah sebagai masalah.
Namun dalam waktu dekat, tumpukan sampah dan limbah peternakan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) bisa memiliki cerita berbeda.
Bukan lagi sekadar dibuang.
Tetapi berpotensi menjadi sumber energi listrik baru.
Angkanya membuat banyak pihak melirik.
Sidrap sedang menjajaki proyek energi baru terbarukan (EBT) yang memanfaatkan 1.000 ton sampah per hari untuk pembangkit listrik tenaga sampah (waste-to-energy).
Tidak berhenti di situ.
Limbah kotoran ayam yang selama ini menjadi persoalan lingkungan juga mulai dilihat sebagai peluang besar.
Sebab Sidrap memiliki potensi mencapai 700 ton kotoran ayam setiap hari untuk diolah menjadi energi biogas.
Potensi besar inilah yang membuat investor energi asal Kanada datang langsung melihat peluang di Bumi Nene Mallomo.
Rombongan yang dipimpin Co-Founder sekaligus Chief Commercial Officer Portage Energy Group, Stephen Akpakwu, melakukan penjajakan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyebut ada empat potensi energi yang sedang dibahas bersama investor.
Mulai dari pembangkit listrik tenaga sampah, pembangkit listrik biogas berbahan kotoran ayam, energi panas bumi (geothermal), hingga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
“Dari Amerika dan Kanada melakukan kunjungan dalam rangka menjajaki kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, pembangunan Pembangkit Listrik Biogas menggunakan kotoran ayam, geothermal, dan PLTS,” ujar Syaharuddin.
Yang membuat proyek ini menarik adalah posisi Sidrap.
Letaknya yang berada di tengah Sulawesi Selatan dinilai menjadi keuntungan strategis.
Jika pembangkit listrik tenaga sampah terealisasi, Sidrap tidak hanya mengolah sampah sendiri.
Daerah tetangga seperti Parepare, Wajo, Soppeng, Barru, Enrekang, dan Pinrang juga berpeluang terlibat dalam kerja sama pasokan sampah.
“Karena Sidrap ini berada di tengah, maka tentu bisa nanti menjalin kerja sama dengan daerah tetangga,” kata Syaharuddin.
Bayangkan.
Sampah yang selama ini membutuhkan biaya pengelolaan, nantinya bisa berubah menjadi sumber energi.
Limbah peternakan yang selama ini berpotensi mencemari lingkungan, bisa menjadi bahan baku pembangkit listrik.
Inilah konsep ekonomi sirkular yang mulai banyak dikembangkan di berbagai negara: mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi aset.
Untuk biogas kotoran ayam, potensi Sidrap bahkan disebut jauh lebih besar dibanding kebutuhan awal proyek.
Kebutuhan investor diperkirakan sekitar 100 ton per hari.
Sementara produksi limbah ayam di Sidrap mencapai sekitar 700 ton per hari.
“Untuk chicken waste atau biogas dari kotoran ayam kebutuhannya hanya 100 ton per hari, sementara produksi kotoran ayam kita bisa sampai 700 ton per hari,” ungkap Syaharuddin.
Jika terealisasi, proyek ini berpotensi membawa perubahan besar.
Sidrap tidak hanya dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Tetapi juga bisa muncul sebagai salah satu daerah penghasil energi hijau di Sulawesi Selatan.
Tentu perjalanan menuju realisasi masih panjang.
Kajian teknis, koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat, serta perhitungan investasi masih harus dilakukan.
Namun satu hal sudah mulai terlihat.
Ada peluang besar yang sedang dibuka.
Dulu sampah dianggap beban.
Kini Sidrap mencoba mengubahnya menjadi kekuatan.
Dari sampah menjadi listrik.
Dari limbah menjadi energi.
Dan dari Bumi Nene Mallomo, sebuah gagasan besar tentang masa depan energi mulai diperbincangkan. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
