Pada bulan kelahiranku,
kantor mengirim slip gaji
lebih dulu daripada ucapan selamat.

Namaku tercetak
di antara angka-angka
yang rapi mengurangi napas.

Gaji pokok.
Tunjangan makan.
Potongan koperasi.
Pajak yang sopan
mengambil sedikit hidupku.

Di rumah, ibu bertanya,
“Sudah makan?”
Aku ingin menjawab:
sudah, Bu,
hari ini aku makan waktu,
mengunyah lembur,
menelan macet.

Namun, dompetku
hanya daun kering
yang berpura-pura
menjadi hutan.

Aku membaginya:
sewa kamar, listrik, beras,
dan ongkos pulang
yang selalu kalah.

Pada bulan kelahiranku,
tidak ada lilin di meja.
Hanya lampu kamar sewaan
yang berkedip,
menghitung mimpi
mana yang harus dicicil
lebih dulu.

Aku mematikan notifikasi bank,
lalu tubuhku berbisik
dari dalam seragam:
bertahanlah,
bahkan usia
kadang datang
dengan upah minimum.