Pinrang, katasulsel.com — Antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai wilayah Sulawesi Selatan kian tak terbendung.
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar membuat para sopir angkutan logistik harus mengubah cara bertahan di jalan: bukan lagi mengejar ritme perjalanan, tetapi mengamankan giliran pengisian.
Di Kabupaten Pinrang, situasi bahkan sudah mencapai titik yang melelahkan. Para sopir terpaksa menginap di sekitar SPBU, menjaga antrean agar tidak hilang dari daftar panjang kendaraan yang menunggu solar.
“Kalau tidak menginap, bisa-bisa sudah mundur jauh. Kami bisa dua sampai tiga hari baru dapat solar,” keluh salah satu sopir truk yang ditemui di lokasi antrean, sambil tetap bersiap di dalam kendaraannya, Jumat, 12 Juni 2026.
Kelangkaan solar ini disebut telah berlangsung hampir satu bulan terakhir dan terjadi merata di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut langsung memukul sektor transportasi barang yang menjadi tulang punggung distribusi logistik.
Banyak sopir memilih bertahan di dalam kabin truk, sebagian lainnya beristirahat di pinggir jalan atau area SPBU, demi memastikan posisi antrean tidak berpindah. Situasi ini membuat kawasan SPBU berubah menjadi titik “parkir panjang” yang nyaris tanpa jeda.
Dampaknya mulai terasa lebih luas. Pengiriman barang melambat, biaya operasional meningkat, dan distribusi kebutuhan harian masyarakat ikut terganggu.
“Kalau solar begini terus, kami bukan cuma rugi waktu, tapi juga biaya jalan. Semua jadi serba tertunda,” tambah sopir lainnya.
Hingga kini, antrean kendaraan masih terus mengular sejak pagi hingga malam hari. Belum ada kepastian kapan kondisi akan kembali normal, sementara para sopir hanya bisa bertahan di tengah ketidakpastian pasokan.
Fenomena ini menegaskan bahwa kelangkaan solar bukan sekadar persoalan antre BBM, tetapi sudah menyentuh langsung denyut ekonomi pergerakan barang di Sulawesi Selatan. (*)
