Saya sempat memperhatikan beberapa siswa. Ada yang masih memegang tangan temannya. Ada yang tersenyum kecil, seperti baru saja mendengar sesuatu yang mereka tunggu lama: bahwa mereka tidak sedang ditinggalkan.
Lalu datang satu kalimat yang membuat suasana berubah sedikit lebih hangat.
Pemerintah Kabupaten Sidrap, kata Bupati, akan menyiapkan beasiswa bagi siswa berprestasi di SD-SMP Negeri Satap 10 Batu.
Tidak ada sorak besar. Tapi ada perubahan kecil di wajah-wajah itu. Seperti pintu yang sedikit terbuka.
“Tidak boleh ada anak yang berhenti sekolah karena ekonomi,” katanya.
Di desa seperti Tana Toro, kalimat seperti itu tidak terdengar seperti janji besar. Tapi seperti harapan yang mulai punya bentuk.
Kunjungan ini tidak hanya soal hadir. Tapi soal melihat. Dan di tempat seperti ini, melihat langsung sering kali lebih penting daripada laporan di meja kerja.
Saat rombongan mulai meninggalkan sekolah, anak-anak tetap berdiri. Tidak ada yang berlari. Tidak ada yang berisik. Mereka hanya melihat ke arah jalan yang perlahan kembali sepi.
Di balik sunyi itu, ada satu hal yang tersisa: keyakinan kecil bahwa jarak dari kota bukan berarti jarak dari masa depan.(*)
