JAKARTA — Di Silicon Valley, ribuan orang berlomba-lomba masuk ke perusahaan teknologi terbesar dunia. Banyak yang mengirim CV berkali-kali. Banyak pula yang gagal sebelum sampai meja wawancara.

Namun jalan Amanda Surya justru berbeda.

Perempuan asal Jakarta, Indonesia itu tidak pernah melamar ke Google. Tidak ada cerita mengirim surat lamaran panjang atau menunggu panggilan kerja berbulan-bulan. Justru Google yang lebih dulu mendekatinya.

Nama Amanda Surya kini dikenal sebagai salah satu diaspora Indonesia yang menorehkan jejak penting di industri teknologi global. Sejak bergabung pada 2007, kariernya terus menanjak di lingkungan perusahaan raksasa teknologi tersebut.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Amanda saat ini menjabat sebagai Head of Engineering Program Management untuk Nest, divisi Internet of Things (IoT) di Alphabet, perusahaan induk Google yang fokus pada pengembangan teknologi rumah pintar.

Perjalanan Amanda menuju posisi strategis itu tidak datang tiba-tiba.

Ia lahir dan besar di Jakarta, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi ke Amerika Serikat. Amanda meraih gelar Bachelor of Science dari University of Texas, lalu melanjutkan studi Master of Information Systems and Management di Carnegie Mellon University—kampus yang dikenal melahirkan banyak profesional teknologi kelas dunia.

Sebelum bergabung dengan Google, Amanda sempat meniti karier sebagai insinyur perangkat lunak di perusahaan besar seperti AT&T dan Bank of America. Pengalaman itu menjadi fondasi kuat sebelum akhirnya masuk ke salah satu ekosistem teknologi paling kompetitif di dunia.

Pada 2007, Amanda resmi bergabung dengan Google melalui peran di bidang Developer Relations.

Di fase awal kariernya, ia banyak terlibat dalam pengembangan berbagai produk penting yang menjadi bagian dari kehidupan digital miliaran orang.

Antara 2010 hingga 2016, Amanda ikut terlibat dalam sejumlah proyek besar seperti Google Apps, Google Maps, YouTube, hingga Google Wallet.

Dari balik layar, ia menjadi bagian dari proses pengembangan dan peluncuran produk-produk yang memperkuat ekosistem Google di pasar global.

Karier Amanda kemudian memasuki fase baru.

Sejak 2017 hingga sekarang, ia dipercaya menjadi Head of Engineering Program Management untuk Nest, divisi yang mengembangkan perangkat rumah tangga pintar berbasis Internet of Things.

Di unit ini, Amanda memimpin tim dan proses strategis dalam pengembangan berbagai perangkat pintar, seperti termostat cerdas, kamera keamanan rumah, hingga teknologi ekosistem smart home yang kini menjadi bagian penting dari transformasi digital rumah tangga modern.

Namun kiprahnya tidak berhenti di urusan teknologi.

Amanda juga dikenal aktif mendorong keterlibatan perempuan dalam dunia digital.

……………..

Ia menjadi bagian penting dalam Women Techmakers, program yang mengangkat kisah, peluang, dan penguatan kapasitas perempuan di bidang teknologi dari berbagai negara.

Melalui ruang itu, Amanda ikut menyuarakan pentingnya representasi perempuan, termasuk mendorong lebih banyak talenta muda Indonesia agar berani masuk ke dunia computer science dan rekayasa teknologi.

Kisah Amanda juga menarik karena satu hal sederhana: ia tidak datang ke Google membawa lamaran kerja.

Justru perusahaan teknologi raksasa itu yang melihat potensinya dan menilai profilnya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Di lingkungan Google Mountain View, Amanda disebut sebagai salah satu dari sekitar IndoGooglers—komunitas profesional asal Indonesia yang bekerja di Google.

Jumlahnya tidak banyak.

Tetapi keberadaan mereka menjadi simbol bahwa talenta Indonesia mampu menembus kompetisi paling ketat di panggung global.

Dari Jakarta ke Silicon Valley, Amanda Surya menjadi gambaran bahwa perjalanan besar kadang tidak selalu dimulai dari pintu yang diketuk sendiri.

Kadang, ketika kualitas berbicara, pintu itu justru dibuka lebih dulu. (edybasri)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.