Di balik itu, Sidrap menjadi salah satu penopang pangan Sulawesi Selatan bahkan Indonesia Timur. Dari padi, jagung, hingga peternakan ayam petelur, ekonomi daerah ini bergerak dari tanah yang terus diolah.
PLTB Sidrap: Saat Angin Menjadi Energi
Namun yang membuat Sidrap sering disebut di tingkat nasional adalah satu hal: energi angin.
PLTB Sidrap bukan hanya pembangkit listrik. Ia adalah simbol bahwa daerah pertanian pun bisa berdiri di garis depan energi modern.
Kincir angin putih yang berdiri di atas bukit itu kini menjadi ikon baru—tempat orang datang bukan hanya untuk melihat teknologi, tapi juga untuk merasakan perubahan zaman.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Dari Nasu Palekko hingga Aroma Pedas yang Melegenda
Sidrap juga punya cerita lain yang tidak kalah kuat: kuliner.
Satu nama yang hampir selalu muncul adalah Nasu Palekko—olahan bebek cincang dengan rasa pedas yang “jujur tanpa kompromi”.
Di warung-warung sederhana hingga rumah makan legendaris, hidangan ini menjadi bukti bahwa orang Sidrap punya karakter kuat: sederhana, tapi berani rasa.
Sidrap Hari Ini: Tradisi Tidak Hilang, Modernisasi Tidak Ditolak
Yang menarik dari Sidrap bukan hanya apa yang dimilikinya, tapi bagaimana semuanya hidup berdampingan.
Sawah tetap hijau, kincir angin terus berputar, adat tetap dijaga, dan masyarakat tetap bergerak mengikuti zaman.
Sidrap bukan daerah yang memilih antara tradisi atau modernisasi.
Ia memilih dua-duanya. (*)
