Jakarta, katasulsel.com — Ada gejala menarik di musim balap 2026.

Moto3 yang dulu sering dianggap sekadar “pembuka” sebelum MotoGP, kini mulai diburu penggemar Indonesia. Jadwal latihan bebas dicari. Hasil kualifikasi dipantau. Bahkan posisi start menjadi bahan diskusi panjang di media sosial.

Penyebabnya satu nama: Veda Ega Pratama.

Pembalap muda asal Indonesia itu perlahan mengubah kebiasaan para pencinta balap motor di Tanah Air. Mereka yang sebelumnya hanya menunggu MotoGP, kini rela begadang sejak Moto3 dimulai.

Fenomena ini mengingatkan pada masa keemasan Valentino Rossi.

Dua dekade lalu, Rossi bukan hanya membuat orang menonton balapan. Ia menciptakan generasi baru penggemar motorsport. Banyak orang yang awalnya tidak memahami dunia balap tiba-tiba hafal nama sirkuit, mengenal strategi ban, hingga mengetahui rivalitas para pembalap.

Efek serupa, meski dalam skala berbeda, mulai terlihat pada Veda Ega Pratama.

Anak-anak muda Indonesia kini mulai mengenal Moto3. Mereka membicarakan slipstream, grup depan, racing line, hingga peluang naik kelas ke Moto2. Sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi konsumsi kalangan penggemar berat balap motor.

Tidak ada data resmi yang menunjukkan kehadiran Veda meningkatkan penjualan tiket di setiap seri Moto3. Tidak ada pula angka yang membuktikan lonjakan penonton langsung di Sirkuit Silverstone atau lintasan lainnya akibat kehadirannya.

Namun tanda-tandanya terlihat jelas.

Media sosial menjadi cermin paling mudah dibaca.

Setiap unggahan tentang Veda hampir selalu dipenuhi komentar pendukung dari Indonesia. Hasil latihan bebas yang dulu nyaris tak diperhatikan kini menjadi bahan pemberitaan. Posisi start di grid Moto3 pun bisa menjadi topik yang ramai diperbincangkan sepanjang hari.

Moto3 yang selama ini berada di bawah bayang-bayang MotoGP mendadak mendapatkan panggung lebih besar.

Padahal kelas ini sebenarnya merupakan tempat lahirnya banyak bintang dunia.

Nama-nama seperti Marc Marquez, Joan Mir, Jorge Martin, Pedro Acosta hingga sejumlah pembalap papan atas MotoGP saat ini pernah melewati jalur yang sama. Moto3 adalah sekolah sesungguhnya bagi para calon juara dunia.

Balapannya pun sering kali lebih liar dan menegangkan dibanding MotoGP.

Selisih waktu antarpembalap kerap hanya sepersekian detik. Posisi pemimpin lomba bisa berubah beberapa kali dalam satu lap. Pemenang baru diketahui saat motor menyentuh garis finis.

Karakter itulah yang membuat Moto3 semakin menarik ketika ada wakil Indonesia di dalamnya.

Veda menjadi alasan baru untuk menonton.

Bukan sekadar karena faktor nasionalisme, melainkan karena publik ingin menyaksikan bagaimana seorang anak muda Indonesia berjuang menghadapi pembalap-pembalap terbaik dunia di level yang sangat kompetitif.

Perhatian itu kembali mengarah ke Moto3 Inggris 2026 di Sirkuit Silverstone.

Lintasan legendaris tersebut dikenal cepat, teknis, dan tidak memberi banyak ruang untuk kesalahan. Bagi pembalap muda, Silverstone sering menjadi ujian penting untuk mengukur kematangan balap.

Bagi penggemar Indonesia, seri ini menjadi momentum lain untuk melihat perkembangan Veda.

Setiap lap yang dijalani bukan hanya soal perebutan poin.

Ada harapan yang ikut bergerak bersama motornya.

Harapan bahwa suatu hari nanti Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pasar besar MotoGP, tetapi juga menjadi negara yang secara rutin melahirkan pembalap di panggung dunia.

Perjalanan Veda memang masih panjang.

Namun satu hal mulai terlihat.

Ia tidak hanya sedang membangun kariernya sendiri.

Ia juga sedang membangkitkan gelombang baru antusiasme balap motor Indonesia. Gelombang yang mengingatkan banyak orang pada masa ketika Valentino Rossi membuat jutaan orang jatuh cinta pada dunia balap.

Kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Indonesia memiliki alasan sendiri untuk merasakan euforia itu. (*)