Penulis
Ahmad Billah

BANTAENG – Sampah dapur yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman. Pengetahuan inilah yang diperkenalkan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin kepada masyarakat Desa Ulugalung, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng.

Melalui program kolaborasi antara Posko Tematik Perubahan Iklim dan Posko Tematik Pemberdayaan Desa, mahasiswa menggelar sosialisasi dan pelatihan lingkungan yang menyasar langsung masyarakat desa pada Senin (20/7/2026).

Kegiatan tersebut meliputi pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah dapur, pembuatan lubang resapan biopori, hingga penanaman pohon sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kepala Desa Ulugalung, para kepala dusun, dan warga tampak hadir mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung secara teori dan praktik langsung.

Pada sesi pertama, mahasiswa memperkenalkan cara mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.

Selain membantu mengurangi volume sampah rumah tangga, pupuk organik cair juga dinilai lebih ramah lingkungan dan dapat menghemat biaya pembelian pupuk.

Warga kemudian diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan pupuk menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar rumah.

Tak hanya membahas pengelolaan sampah, mahasiswa juga mengenalkan teknologi sederhana berupa lubang resapan biopori.

Metode ini dinilai efektif membantu meningkatkan daya serap air ke dalam tanah, mengurangi genangan saat musim hujan, sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos alami.

Setelah sesi sosialisasi, mahasiswa bersama warga langsung membuat contoh lubang biopori yang dapat diterapkan di pekarangan rumah masing-masing.

Kegiatan berlanjut dengan aksi penanaman pohon yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat.

Sebelum penanaman dilakukan, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya pohon dalam menjaga keseimbangan lingkungan, meningkatkan cadangan air tanah, mengurangi risiko erosi, serta membantu mengurangi dampak perubahan iklim.

Penanaman pohon tersebut menjadi simbol komitmen bersama antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan Desa Ulugalung.

Mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin berharap berbagai pengetahuan yang diberikan tidak berhenti saat kegiatan berakhir, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari mengolah sampah dapur menjadi pupuk, membuat lubang biopori di pekarangan rumah, hingga melakukan penghijauan secara berkelanjutan.

Dengan kolaborasi yang terbangun selama program berlangsung, Desa Ulugalung diharapkan menjadi salah satu contoh desa yang aktif menerapkan solusi sederhana untuk menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan iklim. (*)

Topik: Bantaeng